Minggu, 04 Juni 2017

Evolusi Toleransi Melalui Pendidikan dan Teknologi (UAS)

Nama    : Moh Ajuk Alif Furqon
Kelas     : Ilmu Komunikasi A
NIM       : 201610040311041

A : Toleransi
B : Teknologi
C : Pendidikan
D : Lelucon Sakdiyah Ma’ruf

Pokok Paragraf:
1. Fenomena toleransi Indonesia
2. Toleransi 3 bidang
3. Perkembangan toleransi di jaman teknologi
4. Kadar toleransi orang berpendidikan dan tidak berpendidikan
5. Lelucon sakdiyah Ma’ruf
6. Lelucon sebagai media menumbuhkan toleransi yang berpendidikan
7.Simpulan : Perubahan perspektif dalam hal toleransi masyarakat barat terhadap Islam

“The highest result of education is tolerance” – Helen Keller
“Hasil tertinggi dari pendidikan adalah toleransi”. Variasi budaya, suku, agama dan bahasa di Indonesia mengakibatkan adanya tuntutan toleransi yang tinggi di sesama masyarakatnya. Tak periu diragukan lagi jika berbagai macam orang dapat hidup menjadi satu di tanah air, Indonesia. Dapat kita lihat contoh nyata yang ada di Kawangkoan, Sulawesi Utara. Disana terdapat destinasi wisata yang sangat unik dan menggambarkan implementasi toleransi lima agama. 5 rumah ibadah dari 5 agama yang berbeda dapat berjejer dengan rapi dan santun. Semua penganut 5 agama tersebut dapat melakukan ritual peribadatan di Bukit Kasih, Kawangkoan-Sulawesi Utara. (travel.detik.com)

Namun, tak selamanya budaya, agama, suku dan bahasa yang bervariasi mampu menciptakan kehidupan rukun dan sejahtera. Buktinya, saat ini kontroversial agama terlalu dibumbui politik dan menghasilkan ketumpang tindihan yang jelas di depan mata. Sudah biasa dan mainstream jika disini pembahasannya menjadi bahasan politik dicampur dengan agama dan seterusnya atau bahasan yang membahas hak asaasi manusia dan toleransi untuk hidup dan bebas dengan pilihan seksualitas dengan sesama. Benar memang toleransi mengajarkan kita tentang menerima perbedaan pandangan orang lain dan menghormati kehidupan yang mereka pilih. Tapi, kasus-kasus seperti Ahok dan penggerebekan tempat gym esek-esek adalah segelintir bukti bahwa toleransi di bumi pertiwi malah rusak dan tidak karuan.

Toleransi yang rusak berimbas kepada hilangnya prinsip kebhinekaan tunggal ika yang selama ini menjadi faktor pembuktian Indonesia bahwa negara besar dengan keberagaman ini dapat berdiri. Belum lagi dengan hadirnya teknologi merancukan informasi yang berada di masyarakat. Seolah-olah informasi di dunia teknologi melahirkan pemahaman baru tentang toleransi di masyarakat. Paham baru tentang toleransi tersebut perlahan-lahan mengikis toleransi di masyarakat. Masyarakat menjadi aktif untuk berpendapat bahwa yang bersalah itu si A dan si B tapi mereka lupa bahwa apa yang dilakukan justru bukti nyata hilangnya toleransi dan implementasinya. Teknologi membuat semua orang beranggapan bahwa apa yang mereka percaya itu benar dan yang dipercaya orang lain itu salah.

Kehidupan di jaman teknologi saat ini menjadi kehidupan yang sangat multikultural.Teknologi mampu menyebarluaskan kultur secara cepat. Sehingga, tak heran jika pendidikan multicultural harus segera diterapkan. Kadar toleransi orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan jelas berbeda. Salah satu fungsi pendidikan adalah untuk menciptakan cara berpikir yang lebih rasional dan membentuk sikap toleransi. Dengan adanya pendidikan multicultural diharapkan mampu menghasilkan generasi baru yang memiliki pemikiran kritis namun memiliki toleransi tinggi di setiap kultur. Sehingga kadar toleransi generasi berpendidikan multikuktural ini lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. (Jurnal: Ruslan Ibrahim : 2008)

Lelucon Sakdiyah Ma'ruf di TED Ubud (TED.com) menyebutkan bahwa Ia bukanlah komika yang cerdas untuk melucu. Namun, Ia hanya wanita muslimah dengan berbagai steorotype dari masyarakat barat. Sakdiyah menghipnotis audiens untuk turut merasakan betapa sulitnya menjadi seorang muslimah yang ingin tampil beda di publik. Perjuangan untuk berbicara didepan umum dengan topik yang sensitif menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupannya. Lelucon yang disampaikan terbentuk dari cara memandang Islam dari sudut yang berbeda. Tak bisa dilupakan bahwa audiensnya juga menjadi penentu dari berhasil tidaknya lelucon yang Ia bawakan. Belum lagi audiensnya pun memiliki pengalaman pahit terhadap pemeluk Islam.

Jika audiens dapat menertawai lelucon Sakdiyah. Itu dapat diindikasikan bahwa lelucon adalah salah satu media yang tepat untuk membentuk dan menumbuhkan toleransi di tengah-tengah perbedaan, terutama perbedaan yang sangat kontorversial yakni agama. Toleransi yang terbentuk bukan hasil dari paksaan satu pihak. Namun, toleransi yang terbentuk merupakan hasil dari kesadaran dua belah pihak yang berbeda. Media yang digunakan juga bukan media kekerasan yang memaksa pihak lain. Media yang digunakan adalah media halus yang mendidik.

Selama ini Islam mengajarkan tentang pentingnya toleransi terhadap non muslim. Sayangnya, pemeluk agama itu sering salah mengimplimentasikannya di kehidupan. Toleransi yang salah itu menyebabkan banyak pandangan buruk terhadap islam. Contoh kasusnya peristiwa 911, pemboman Bali dan Jakarta di Indonesia. Itu semua menyebabkan orang-orang barat berpikir bahwa Islam membawa peperangan dan tidak mengenal kedamaian. Namun, saat ini di jaman serba canggihnya teknologi dan banyaknya orang berpendidikan seharusnya kita dapat membentuk perspektif baru masyarakat barat tentang islam dan kedamaiannya. Terlebih lagi kita sebagai negara pemeluk Islam terbesar di dunia seharusnya merepresentasikan negara kita sebagai negara akur dan saling toleransi. Sayangnya, toleransi dinegara ini perlu dipertanyakan dengan adanya kasus Ahok yang penuh drama dan politik di dalamnya. Hal itu memunculkan polemik dari berbagai sisi dan jika dibiarkan polemik itu yang mengkotak-kotakkan kita dari persatuan. Sudah pupus harapan bapak-bapak pendiri bangsa ini karena toleransi yang diharapkannya malah memburuk. Seharusnya kita juga menengok semboyan negara kita. "Bhineka Tunggal Ika, Berbeda-beda tapi tetap satu juga".

Kamis, 25 Mei 2017

Berjuang di Rumput Tetangga yang Lebih Hijau - Moh Ajuk Alif Furqon

Kehidupan glamour dan hura-hura para selebriti selalu menjadi pemandangan yang biasa di pertelevisian Indonesia. Tas Hermes dan sepatu branded yang dikenakan Syahrini, Lamborghini yang dikendarai Raffi Ahmad bahkan kemewahan yang dipamerkan Roro Fitria menjadi bahan omongan yang mantap di keseharian masyarakat. Program infotainment seperti insert, silet dan kiss memberi kesempatan selebritis untuk pamer kehidupan. Selebritis yang sudah memiliki jutaan followers di sosial medianya itu tentu memperoleh cipratan keuntungan dari dunia televisi. Dengan mempersilahkan televisi mengumbar kehidupan pribadi mereka, namun menariknya tak hanya para selebriti yang memperoleh keuntungan dari umbar-umbar kehidupan pribadi tersebut. Bos-bos besar pemilik saham di televisi juga memperoleh keuntungan yang besar di perputaran bisnis dalam televisinya. Mempertajam kemungkinan yang akan terjadi di masyarakat menjadi tugas utama bos-bos pemilik modal. Bukan soal drama apa yang harus diciptakan tetapi drama seperti apa yang ditunggu masyarakat.

Pertelevisian Indonesia seolah membius masyarakat untuk terus memantau perkembangan apa saja yang ada di televisi. Memang betul, sebagai masyarakat modern kita dituntut untuk menjadi masyarakat cerdas dan up to date. Tapi, perlu ada pagar antara informasi yang mendidik dan informasi yang merugikan. Bahkan program televisi dipenuhi dengan drama dimana para selebriti menjadi pelakon utama disetiap ceritanya. Suatu kewajaran yang tak bisa dibedakan mana drama dan mana yang nyata. Contohnya, Sudah banyak kasus tentang perselingkuhan yang diumbar oleh selebriti melalui televisi. Entah itu memang nyata atau hanya settingan belaka. Hal semacam itu seharusnya tidak pantas menjadi santapan masyarakat sehari-hari. Terutama jika maksud dan tujuannya hanya mempertebal dompet bos-bos besar dibalik layar. Disayangkan saja jika drama dan kehidupan glamour para selebriti berimbas kepada generasi-generasi emas penerus bangsa. Korban memang belum merasakan efek dari kegiatan "mempertebal dompet bos" namun tak lama lagi efek itu akan bermunculan di layar kaca Indonesia.

Tak diragukan lagi, kehidupan glamour para selebriti yang ada di televisi menciptakan konsep baru di masyarakat tentang kebahagiaan. Kebahagiaan bukan lagi masalah bagaimana mensyukuri yang sudah ada tapi bagaimana memperoleh dan memiliki apa yang belum ada. Tontonan masyarakat tentang selebriti yang glamour dan dipenuhi barang branded menciptakan keinginan masyarakat untuk membeli apa yang selebriti miliki. Memiliki barang branded itupun tak cukup satu atau dua. Harus lebih dari yang biasa. Selain agar dapat berganti-ganti mode setiap harinya. Hal itu berguna juga agar mendapatkan pengakuan dari lingukungan sekitar. Konsep itulah yang akan menemani tumbuhnya generasi-generasi emas penerus bangsa. Generasi dimana sudah dari dini dipaksa untuk melihat rumput tetangga yang lebih hijau. Sehingga, tak bisa terelakkan lagi kegiatan yang konsumtif lebih tinggi dibanding kegiatan yang produktif. Di kemudian hari, jangan heran jika generasi emas sudah tak mengenal apa itu proses dan perjuangan. Mereka hanya akan mengenal hasil cepat dan instan.

Jadi, yang harus kita perjuangkan adalah hak-hak generasi emas untuk mengenal apa itu proses dan perjuangan. Bukan mengenal tentang apa itu hasil cepat dan instan. Memang hak setiap orang untuk mendapatkan yang mereka mau secara instan atau berproses. Tapi kita tidak boleh melupakan esensi dari sebuah kesuksesan, bahwa yang terpenting bukan hasil akhir namun proses yang dapat membawa perubahan. Apa yang kita harus lakukan saat ini adalah membiarkan generasi emas mengenal betapa indahnya perjuangan dengan cara tidak mencekoki program TV yang hanya mengumbar drama dan settingan belaka. Dengan begitu, diharapkan generasi akan tumbuh menjadi dewasa yang baik dan mengenal sebuah proses atau perjuangan.

Moh Ajuk Alif Furqon (201610040311041/ikom A)

Selasa, 02 Mei 2017

Kolaborasi Musik diantara Cinta dan Sejarah (Revisi)

Inter relasi:
A: Musik
B: Cinta
C: Sejarah
D: Ismail Marzuki

Pokok-pokok pikiran paragraf:
1. Perbedaan musik dan kata-kata.
2. Dampak musik terhadap masyarakat.
3. Cinta dan pertahanan.
4. Bentuk pengorbanan cinta.
5. Musik dan perlawanan.
6. Sejarah dan perjuangan. 
7. Makna sejarah.
8. Menghargai musik di masa sekarang.
9. Menurunnya pemahaman sejarah.
10. Menghargai sejarah.
11. Mentalitas generasi muda yang menurun.

Mengekspresikan hati dan pikiran bisa disalurkan melalui musik. Bisa dikatakan bahwa musik adalah jembatan manusia untuk menyampaikan pesan dari seseorang kepada orang lain. Musik bisa menggambarkan kebahagiaan dan kesedihan secara nyata karena musik tak sama seperti kata-kata. Musik memiliki melodi yang indah sehingga dapat mempengaruhi emosional seseorang. (Ian Peddie, 2011)

Melalui musik, seorang Ismail Marzuki dapat mengecam keras bagaimana penjajahan di Indonesia tak seharusnya ada. Ini adalah gambaran emosi Ismail Marzuki kepada penjajah yang dapat berdampak kepada masyarakat Indonesia pada waktu itu. Sentilan emosi yang dihasilkan melalui musik karya Ismail Marzuki mampu menggerakkan hati masyarakat untuk melawan penjajahan di Indonesia. Karya-karya Ismail Marzuki menjadi saksi bahwa perjuangan tak harus bertarung dalam medan perang. Tetapi melalui karya berbentuk apapun bisa digunakan sebagai senjata. Contoh dari lagu yang tercipta adalah Rayuan Pulau Kelapa "Sebuah lagu dengan syair-syair yang penuh berisi cinta-kasih terhadap Tanah Air" (Esha, Alhaziri, Fauzi, Donald W, Sigarlaki, 2002)

Musik yang diciptakan oleh Ismail Marzuki adalah bentuk kecintaan seorang warga negara kepada tanah airnya. Cinta merupakan bentuk emosi dalam hati yang dapat ditandai dengan adanya pengorbanan demi kebahagiaan yang dicintai. Bentuk emosi yang disalurkan melalui musik tercatat dalam sejarah bagaimana musik ikut andil dalam menentukan kemerdekaan.

Cinta Ismail Marzuki tak hanya kepada negerinya yang sedang melawan penjajahan waktu itu. Namun juga cinta kepada Istrinya (Eulis) sebelum mereka menikah dapat digambarkan melalui lagu Panon Hideung (Mata Hitam). Cerita tentang cinta yang awalnya mendapat perlawanan oleh kedua belah pihak keluarga yang tak setuju. Namun, benteng cinta mereka dapat bertahan menghadapi perlawanan tersebut. (Esha, Alhaziri, Fauzi, Donald W, Sigarlaki, 2002)

Benteng yang sama dibangun oleh Ismail Marzuki saat itu kepada penjajah. Hal ini adalah bentuk pengorbanan yang nyata oleh Ismail Marzuki terhadap tanah air yang dicintainya. Memang, cinta itu buta dan tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Maka musik adalah jalan yang ditempuh Ismail Marzuki dalam melawan penjajahan. Ismail Marzuki hadir disaat Jepang tengah menggodok Indonesia sebagai tanah keduanya.

Sejarah merupakan kumpulan waktu yang tersusun rapi dengan momen-momen yang ada. Sejarah menjadi saksi bahwa sesuatu yang besar berawal dari hal-hal kecil yang diperjuangkan di masa lalu. Sejarah kemerdekaan Indonesia tak lepas dari campur tangan Jepang yang menghadiahi Indonesia kemerdekaan dari negara Belanda. Namun, hadiah itu juga menjadi bom atom bagi Indonesia karena Jepang memiliki maksud tersendiri untuk menghadiahi kemerdekaan itu kepada Indonesia. Alih-alih menganggap Indonesia adalah saudara muda di Asia Timur. Jepang malah menjadikan umpan kepada Belanda. Ketika Indonesia melawan keberadaan Jepang. Jepang siap mengembalikan Indonesia kepada Belanda. Namun, perjuangan tak henti-hentinya dilakukan pemuda-pemuda Indonesia. Termasuk lagu-lagu Ismail Marzuki saat itu yang sekarang bisa dikatakan menjadi sejarah perjuangan orang Indonesia. Contohnya, Sepasang Mata Bola yang menceritakan bahwa semua orang harus melihat pemuda pejuang yang kembali ke tanah juang. (Esha, Alhaziri, Fauzi, Donald W, Sigarlaki, 2002, p.53)

Kadang sejarah tak selamanya indah. Sejarah dapat menjadi hal yang menakutkan dan menyedihkan untuk dikenang. Itulah apa yang dimaksud dari sejarah. Sejarah tidak mengajari kita bagaimana cara memperbaiki masa lalu. Namun, sejarah mengajari kita bagaimana mempersiapkan masa depan dengan mempelajari kesalahan di masa lalu dan melakukan yang terbaik di masa sekarang.

Saat ini, jika ditelisik lebih mendalam Indonesia sedang bersiap untuk melakukan kesalahan di masa lalu. Pemuda-pemudi Indonesia saat ini tidak menghargai sejarah yang pernah ada. Pemuda-pemudi Indonesia lebih menghargai hasil karya negara lain dibanding negara sendiri. Musik-musik tradisional atau musik berdarah perjuangan lebih jarang didengar dibanding musik-musik yang lebih pop dan modern. Memang perubahan itu pasti ada, namun sejarah akan cinta seseorang kepada tanah air juga patut untuk dikenang dan dihargai. Lagu-lagu karya Ismail Marzuki seperti Indonesia Sang Pusaka telah tenggelam tergantikan oleh Shape Of You yang dinyanyikan Ed Sheeran. Musik-musik darah perjuangan seperti ciptaan Ismail Marzuki hanya terdengar ketika Agustus datang. Bulan dimana momentum untuk mengenang perjuangan dan bukti pengorbanan cinta para pejuang untuk Indonesia.

Hal ini tak terlepas dengan apa yang menjadi kegemaran generasi muda Indonesia. Saat ini mereka lebih mendalami cerita sinetron televisi dibanding dengan membaca dan memahami sejarah. Akibatnya, mereka lebih memahami konteks cinta dengan lawan jenis yang digambarkan secara visual di televisi dibanding konteks cinta lainnya. Padahal cinta itu luas, cinta kepada Indonesia juga salah satu bentuk yang harus dimiliki generasi muda saat ini.

Jika cinta kepada Indonesia tumbuh sejak anak-anak, maka generasi-generasi muda dapat lebih mengenal sosok Ismail Marzuki daripada Justin Bieber, Ariana Grande, atau artis Korea yang digilai saat ini. Dulu para pejuang berusaha keras untuk memerdekakan Indonesia. Tapi saat ini generasi mudanya seolah lupa untuk menghargai perjuangan mereka.

Tak heran jika mentalitas negeri ini menjadi turun dan perlu dipertanyakan. Hal itu sangat wajar karena dalam hal bermusik saja para pemudanya tidak mau mempelajari warisan budaya yang sudah ada. Terlena dengan adanya keberagaman budaya yang dengan mudah masuk ke Indonesia melalui teknologi. Lantas jika sudah begini, masih maukah generasi muda membunuh Indonesia secara perlahan melalui musik? Karena musik bukan hanya sekedar tentang cinta namun juga tentang bagaimana menghargai sejarah yang sudah ada.

Daftar Pustaka

1. Esha, dkk Teguh. 2002. Ismail Marzuki Musik, Tanah Air dan Cinta. Jakarta: Pustaka LP3ES.
2. Peddie, Ian. 2011. Popular Music and Human Rights volume II : World Music. Burlington: Ashtage Publishing Company.

Moh Ajuk Alif Furqon / Ilmu Komunikasi A / 201610040311041

Rabu, 26 April 2017

Kolaborasi Musik diantara Cinta dan Sejarah

Musik adalah sarana untuk manusia bisa mengekspresikan apapun yang ada dalam hatinya. Mengenal musik bisa dari mana saja bahkan dari orang tua yang mewarisi apa musik kegemarannya kepada sang anak. Keahlian bermusik dapat menjadi nilai tambah bagi seseorang. Keahlian bermusik juga bisa menolong setiap orang yang ingin berjuang di hal lain. Sebut saja memperjuangkan cinta. Memperjuangkan cinta dari lawan jenis, sahabat atau teman bahkan negeri sendiri.

Cinta memang sesuatu hal yang dirasa dan tidak dapat dideskripsikan lewat apapun. Namun melalui musik, cinta dapat dimaknai sebagai suatu hal yang sakral dan dapat mengubah banyak hal di kehidupan. Lewat cinta pulalah musik dapat menjadi bukti bahwa sejarah itu pernah ada dan nyata.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa musik menjadi memori yang baik untuk menyimpan momen-momen penting bagi pelaku sejarah. Dengan adanya musik, kita dapat mengetahui musik itu dirilis kapan karena sejarah mencatatnya. Musik seperti apa yang pernah ngetrend di masanya. Itu semua menjadi bukti bahwa musik, cinta dan sejarah itu saling berkorelasi.

Sayangnya, saat ini banyak masyarakat lupa akan esensi musik Indonesia. Masyarakat terlalu melirik rumput tetangga yang lebih hijau dan musiknya lebih bervariasi sebagai pilihan untuk didengar. Itu menyebabkan musik di negeri ini sudah tidak lagi menjadi hal yang berada di posisi tertinggi di negeri ini. Banyak musik tradisioal sudah tersingkirkan oleh musik-musik internasional yang lebih beragam. Contohnya saja, keberagaman musik jawa tergabtikan dengan adanya keberagaman musik pop dari barat. Sebaliknya, musik jawa lebih diapresiasi di negara orang dibanding negeri ini.

Masyarakat tidak sadar bahwa musik di Indonesia pernah hadir sebagai alat sindiran kepada Belanda dan Jepang yang berkuasa di Indonesia saat belum merdeka. Ismail Marzuki adalah lakon dibalik layar tentang musik dan perjuangan memperoleh kemerdekaan. Sejarah menunjukkan bahwa Ismail Marzuki menjadi pemusik sekaligus pejuang yang tak pernah lelah bermusik demi mencapai kemerdekaan.

Mencintai memang tidak harus memiliki tapi, setidaknya Kecintaan pada Indonesia memaksa seorang Ismail Marzuki memimiki Indonesia sebagai tempat dam sejarahnya. Dunia musik dan tanah air yang ditunjukkan oleh Ismail Marzuki bisa dijadikan contoh atau teladan bagi pemuda-pemudi Indonesia bahwa apapun hal yang kita cintai dapat menjadi penolong kita untuk memajukan negeri ini.

Sumber :

Selasa, 04 April 2017

UTS : Kemampuan Berbahasa Asing di era Globalisasi

             Meningkatnya kemampuan berbahasa asing masyarakat di era globalisasi. Era globasasi membuat kehidupan manusia menjadi lebih kompleks. Manusia dituntut untuk menjadi serba bisa dan bisa diandalkan. Tak heran jika manusia berusaha keras untuk bisa menjadi berbeda satu sama lain, sehingga manusia belajar banyak hal. Contohnya, mereka mengambil kelas tambahan atau program tambahan bahasa asing. Bahasa asing merupakan nilai tambah untuk seseorang yang ingin dapat bertahan di derasnya arus persaingan di era globalisasi.

             Dari hasil observasi yang saya lakukan, menunjukkan bahwa 80% menyatakan bahwa bahasa asing sangat menunjang kehidupan kita sebagai manusia di era globalisasi ini. Hal itu didukung oleh sebagian besar koresponden pernah mengambil program bahasa asing. Bahkan di era globalisasi pembalajaran bukan hanya melalui buku atau kelas formal. Namun juga dari berbagai sumber, seperti internet, youtube, film, musik dan media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa era globalisasi membentuk manusia-manusia yang fasih dalam berbagai bahasa.

             Peningkatan kemampuan bahasa asing di era globalisasi telah didukung dengan adanya internet, sehingga siapapun dapat mengakses dunia pembelajaran berbahasa asing lebih cepat dan fleksibel. Bahkan seseorang dapat terhubung dengan native speaker secara mudah setiap hari. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya orang-orang yang percaya diri berbicara dan mengambil tes kemampuan bahasa asing (seperti TOEFL dan IELTS) dengan bermodalkan keberanian dan tekad tanpa adanya persiapan di kelas formal.

                 Dari buku Human Development (Thomas Crandell 2010:141), Bahasa memiliki dua fungsi dalam kehidupan. Yang pertama Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi dari seseorang ke orang lain dan kedua, bahasa adalah fasilitas manusia untuk berpikir dalam kehidupannya. Bahasa menjadi jembatan untuk penyampaian informasi, ide, perilaku dan emosi seseorang kepada orang lain. Tapi di sisi lain bahasa digunakan dalam berpikir, berpikir untuk membantu manusia menerima masa lalu dan mengantisipasi masa depan sehingga terbentuk pola pikir. Karena bahasa dapat membentuk pola pikir dan pola pikir dapat membentuk bahasa.  Maka, era globalisasi dimana semua manusia mempelajari bahasa asing sebanyak-banyaknya dapat membentuk suatu pola pikir baru yang berbeda dari generasi sebelumya.

                  Kehidupan manusia di era globalisasi menyebabkan perubahan dari masa terdahulu. Dulu manusia berusaha keras untuk belajar sesuatu dari cara tradisional. Namun, saat ini kebanyakan manusia mempelajarinya dengan cara cepat, mudah dan efektif dan cara yang lebih modern. Manusia membuat dunia semakin mudah dijangkau. Globalisasi bukanlah tantangan yang harus dilalui tapi jadikan globalisasi sebagai kesempatan untuk memiliki kemampuan lebih. 

DAFTAR PUSTAKA:
Crandell, dkk Thomas. 2010. Human Development. New York: Mc Graw Hill.

Rabu, 29 Maret 2017

Contoh Kalimat Majemuk Setara dan Kalimat Majemuk Bertingkat

Kata: Bahasa

A. Kalimat Majemuk Setara

1. Kalimat majemuk setara penggabungan (dan, lagi, bersama, sesudah itu)
contoh: Bahasa merupakan alat untuk penyampaian pesan dan pengekpresian diri.
2. Kalimat majemuk setara pertentangan (tetapi,sedangkan,melainkan,namun)
contoh: Bahasa digunakan manusia sejak zaman dahulu namun zaman dahulu manusia belum memiliki aturan bahasa resmi.
3. Kalimat majemuk setara pemilihan (atau)
Contoh: Ketika kita berbicara dengan teman kita, kita bisa menggunakan bahasa informal atau bahasa yang lebih santai demi terciptanya keakraban.
4. Kalimat majemuk setara penguatan (bahkan)
Contoh: Bahasa digunakan manusia sejak zaman dahulu bahkan sejak zaman dimana manusia belum memiliki aturan bahasa resmi.

B.kalimat majemuk bertingkat

Kalimat yang menggabungkan 2 kalimat tunggal atau lebih, yang masing-masing kalimat memiliki kedudukan yang berbeda (induk kalimat dan anak kalimat).

1.kalimat majemuk hubungan waktu (sejak, ketika, saat)
contoh: manusia memulai menggunakan bahasa sejak manusia lahir ke dunia.
2.kalimat majemuk bertingkat hubungan penyebab (sebab,karena)
contoh : Alasan manusia memakai bahasa salah satunya karena manusia menginginkan proses komunikasi berjalan lancar.
3.kalimat majemuk bertingkat hubungan akibat (hingga,sehingga,maka)
contoh: Nyatanya orang tua zaman sekarang mengajari anaknya banyak bahasa sehingga seorang anak mampu berbagai macam bahasa (polygot).
4.kalimat majemuk bertingkat hubungan syarat (jika,asalkan,apabila)
contoh: Manusia boleh saja menguasai banyak bahasa jika dia bijak dan mengerti waktu untuk menggunakan bahasa-bahasa tersebut.
5.kalimat majemuk bertingkat hubungan perlawanan (meskipun, walaupun)
contoh: Manusia saat ini membuat bahasa menjadi lebih bervariasi walaupun hal tersebut dapat merubah esensi makna bahasa tersebut.
6.kalimat majemuk bertingkat hubungan pengandaian (seandainya,andaikata)
contoh: seseorang dapat menggunakan banyak bahasa dalam komunikasinya sehari-hari seandainya orang tersebut terbiasa dan terus berlatih untuk menggunakan bahasa-bahasa itu.
7.kalimat majemuk bertingkat hubungan tujuan (agar, supaya, untuk)
contoh:Di era globalisasi saat ini manusia memang dituntut untuk memiliki kemampuan berbahasa yang baik agar mampu bertahan di derasnya arus persaingan.
8.kalimat majemuk bertingkat hubungan perbandingan (ibarat,seperti,bagaikan,laksana)
contoh: Orang-orang yang mampu banyak bahasa ibarat kuah soup yang memiliki sayur yang beragam.
9.kalimat majemuk bertingkat hubungan pembatasan (kecuali, selain)
contoh: Semua bahasa mudah untuk dipelajari kecuali bahasa hati

Moh Ajuk Alif Furqon
(201610040311041)

Kata, Frasa dan Hipotesa

Kata
Bahasa

Frasa
Mahasiswa berbahasa Inggris

Hipotesa
Peningkatan kemampuan mahassiwa dalam berbahasa inggris di dunia globalisasi meningkat.

Data
Bahasa merupakan alat untuk penyampaian pesan dan pengekpresian diri. Di era globalisasi ini kemampuan bahasa inggris mahasiswa meningkat karena ditunjang dengan adanya fasilitas internet. Disamping itu, kesadaran mahasiswa untuk kemampuan bebrabahas juga semakin meningkat. Sedangkan, dilihat dari antusias mahasiswa untuk memperdalam kemampuan berbahasa inggris dapat dilihat dari seringnya penggunaan internet untuk membangun kemampuan berbahasa inggris. Bahkan dari segi kuantitas mahasiswa yang ambil jam tambahan bahasa inggris di beberapa tempat kursus bahasa inggris mengindikasikan bahwa mahasiswa sadar akan pentingnya kemampuan berbahasa inggris. Karena jumlah mahasiswa yang mengambil program semakin waktu semakin meningkat. Sejak globalisasi muncul, manusia dituntut untuk menjadi lebih dalam segala aspek. Sehingga mahasiswa juga sadar bahwa kewajibannya bukan hanya belajar jurusan yang ia ambil tapi juga sadar untuk membangun kemampuannya dalam hal lain. contohnya saja, dalam hal berbahasa. Mahasiswa melakukan eksplor diri di bidang lain agar ia mampu bertahan di derasnya arus persaingan globalisasi. Jika mahasiswa mampu banyak hal maka ia akan mudah mendapatkan kesempatan ibarat undangan, undangan itu akan datang dengan sendirinya tanpa ditunggu dan diantar.

Moh Ajuk Alif Furqon
(201610040311041)

Sabtu, 18 Maret 2017

Indonesia in My Eyes

Indonesia itu beraneka ragam, ragam kebudayaan, bahasa, makanan dan ragam cinta kasih. Indonesia itu negara kepulauan. Walau saling jauh, tapi satu pulau dan pulau lainnya saling membutuhkan dan mensupport. Kali ini merupakan postingan saya untuk memenuhi tantangan dari Hayati Nur. "Indonesia di mata Saya". Semoga suka.

Balik lagi, Indonesia itu unik dan keren. Kenapa unik? negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dapat memberikan ruang dan menghormati 4 agama lain yang dipercaya di negara ini. Kenapa keren? negara dengan SDA yang melimpah membuat Indonesia dilirik banyak WNA untuk membangun bisnis dan mengeksplore alam Indonesia (terutama dalam bidang pariwisata).

Tapi di sisi lain, Indonesia sedang dilanda krisis karakter. Krisis karakter itu berdampak pada hasil SDM yang dihasilkan oleh Indonesia, parahnya ada beberapa orang yang duduk di kursi kekuasaan juga hasil dari krisis karakter. Hal itu membuat Indonesia menjadi negara yang selalu berkembang, tidak maju-maju. Mana bisa maju kalau korupsi masih menjadi trend. Mana bisa maju kalau kehidupan muda-mudinya hanya memikirkan asik-asiknya aja. Mana bisa maju kalau pemikiran tentang pendidikan hanya sebagai kejar title dan kurang mengetahui esensi pendidikan.

Seperti apapun Indonesia saat ini, saya masih mencintai Indonesia. Di negara ini saya lahir dan dibesarkan. Di negara ini saya mengenal apa itu cinta, kasih, benci, sedih dan bangga. Di negara ini saya mengenal bahwa cinta harus diperjuangkan. Walau suatu saat, kita harus merelakan apa yang kita cintai itu pergi atau kita duluan yang harus pergi dan meninggalkan yang kita cintai.

Share and comment guys. Terima Kasih.

Jumat, 17 Maret 2017

Terbang-terbang

Postingan kali ini merupakan request-an dari salah seorang FA wanna be, Ihsan Winalda Putra Rambe. As you know, we have the same dream, to be Flight Attendant. He asked me to write about FA. Ok, request accepted. hahaha

Pertama-tama mungkin flashback ke belakang ketika dulu masih kecil saya memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pilot. Pilot is the greatest dream that I had at that time. I was thinking that Pilot is one of the precious job. A Pilot can go travelling and visit all the great cities in the world. Tapi seiringnya waktu cita-cita itu berubah. Dapat saya katakan perubahan cita-cita tersebut karena fisik saya yang tidak mendukung ditambah beberapa pihak tidak merestui saya melanjutkan di pendidikan penerbang. Tapi itu bukan hal yang menjadi masalah bagi saya. Mungkin memang Tuhan sudah merencakan hal lain yang lebih indah di lembaran cerita kehidupan saya.

Tepatnya tahun 2013 ketika saya mencari cerita-cerita inspiratif seorang Pilot di google, Sistem pencarian menampilkan blog yang berisi tentang kehidupan pramugari yang dibungkus dengan cara yang unik dan lucu (You can visit radinnanandakita.blogspot.co.id). Kak Radinna adalah seorang blogger, waktu itu dia bekerja sebagai Cabin crew di Lion air. Isi dari blognya merupakan sekumpulan cerita kehidupannya sebagai seorang FA. blog tersebut yang membius saya untuk kepo tentang kehidupan yang dimiliki oleh FA lebih dalam. Hampir semua postingan sudah saya baca.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari proses kepoin kehidupan FA tersebut. Saya mulai mengetahui bahwa ada beberapa positive things, mulai dari bagaimana menjadi seorang penyelamat pertama. Walaupun keselamatan sebagai seorang FA sangat riskan dengan resiko tinggi. Namun, mereka harus memastikan kenyamanan dan keselamatan penumpang mereka selama penerbangan. Di sisi lain, mereka bisa menjadi pembelajar paling cepat disegala situasi. Baik situasi normal atau situasi buruk. Karena itu memang tugas mereka sebagai garda terdepan dari sebuah maskapai untuk memastikan segalanya berjalan dengan baik dalam cabin selama penerbangan.

Walaupun kehidupan sebagai FA kadang dianggap glamour dan suka hura-hura, namun itu bukan berarti semua seperti itu. Namun, memang kehidupan yang glamour sering banyak godaan dan rintangan. Bagi saya, profesi apapun ada rintangan untuk menjadi tidak baik. Tergantung orangnya, Begitu pula menjadi seorang mahasiswa. Godaan iman ada dimana-mana harus pintar mencari teman dan pasangan, Jika tidak, jadilah manusia tanpa arah dan tujuannya.

Itu yang bisa saya share kali ini semoga bermanfaat dan jangan lupa komen di kolom komentar:)

Kamis, 02 Maret 2017

Wanita Yang Patut Diperjuangkan

Selamat pagi, kesempatan kali ini saya ditantang oleh rekan menulis saya bang Susian Nurcahyana untuk menuangkan pikiran saya tentang "wanita yang patut diperjuangkan". FYI, I have written about woman on my wordpress (Perempuan). Jika bicara tentang wanita lebih jauh lagi pertama saya akan melihat dari seseorang yang telah berjasa dalam hidup saya, yaitu Mama saya sendiri. Sebagai seorang anak laki-laki tunggal tak menutup kemungkinan saya akan mencari sesosok wanita yang hampir mirip dengan mama saya. Tak hanya dari segi fisik, namun juga dari segi pemikiran dan sifat atau watak. Mungkin mama saya bukan seorang yang sempurna. Masih banyak kekurangan yang beliau miliki. Itu tugas saya untuk mencari yang lebih baik dari beliau. Saya pun percaya seorang Mama akan ikhlas jika anak tunggalnya berada di tangan wanita yang tepat,

Jika dikasih pilihan tentang wanita seperti apa yang patut untuk diperjuangkan, jawabannya adalah wanita yang mengajak saya menuju surga bersama. Saya berharap wanita yang saya perjuangkan tersebut juga mengharapkan hal yang sama. Menuju surga bersama-sama. Dia boleh cantik, pintar, sukses dan lain sebagainya. Namun yang pasti dia juga harus menjadi wanita yang mampu memberikan ketenangan bagi pasangannya. Ketenangan saya maksud seperti ketika saya gagal, down dan berada di posisi terpuruk. Dia akan membantu membangun semangat saya untuk berjuang kembali. Toh, wanita memang kodratnya adalah penyeimbang bagi seorang laki-laki.

Apakah sudah menemukan wanita yang patut diperjuangkan? 

Boleh jadi sudah, namun saya dengannya belum memiliki hubungan apa-apa. Hanya sebatas teman, dan tak lebih, Kami memang lebih nyaman seperti ini. Jika memang dia adalah jodoh saya, Tuhan pasti mempertemukan kami di hari yang dinanti-nanti. Sudahlah, saya sudah hampir berkepala dua. Bukan anak ingusan yang masih galau tentang kehidupan cintanya. Yang pasti tugas saya sekarang adalah memantaskan diri saya agar pantas juga untuk dia perjuangkan.

As a Man I know that in the future there will be a lot of choices, and I have to make sure that I choose the best of choices.

Personal Branding

Setiap manusia memiliki cara tersendiri dalam menjalani kehidupannya di dunia. satu dengan lainnya tak mungkin memiliki kehidupan yang sama. Mungkin ada beberapa hal yang memiliki kemiripan cerita dan alurnya, tapi dapat dipastikan ada hal lainnya yang membuat mereka berbeda. Manusia diciptakan Tuhan untuk menjalani kehidupan sesuai dengan cerita yang mereka inginkan. Bahkan seperti apakah mereka dikenal pun tak luput dari hak semua orang. Setiap orang memiliki hak untuk dikenal sebagai siapa, seperti apa dan bagaimana orang melihatnya. Jika saya boleh katakan personal branding merupakan cara untuk kita memperkenalkan seperti apa kita. Apa yang membuat kita berbeda dengan orang lain dan kehidupan kita yang mungkin bisa menjadi motivasi untuk orang lain.

Setiap orang membranding personalnya melalui cara mereka sendiri-sendiri. Bahkan kadang kita tak sadar apa yang kita lakukan setiap hari adalah cara branding kita kepada orang lain. Terlebih lagi ketika saat ini teknologi semakin maju dan berkembang pesat. Perkembangan itu membentuk kita menjadi selalu ingin menonjolkan siapa diri kita pada publik. Manusia dituntut untuk selalu eksis dan melaporkan seperti apa kehidupan mereka.

Dulu personal branding hanya bisa kita tujukan kepada orang-orang khusus (dunia kerja/karir). Namun saat ini, siapapun bisa membranding personalnya melalui media sosial mereka. Hal ini bisa berdampak positif jika kita melihat dari segi positif. Contohnya, kita tak perlu menjelaskan panjang lebar siapa diri kita pada banyak orang secara langsung, cukup suruh mereka melihat media-media sosial yang kita miliki. Walaupun tak semua media sosial pantas dijadikan sebagai patokan untuk mengetahui secara mendalam siapa orang-orang itu sebenarnya. Tapi paling tidak, beberapa hal sudah tergambar dari proses stalking tersebut.

Dari segi negatif, orang-orang yang berlomba untuk membranding di sosial media kadang lupa akan esensi dari sebuah personal branding, Mereka hanya menunjukkan siapa mereka melalui sosial media. Mereka lupa untuk membranding siapa mereka di dunia nyata. Bisa jadi mereka di dunia nyata bukanlah merekad di sosial media mereka.

This topic was given by Nur Hayati. Thx for Susian NurcahyanaFevie Hayu Mandariz and for all the people who helped me to write this topic.

Selasa, 28 Februari 2017

Apa yang saya dapat dari Cerpen "Pelajaran Mengarang"

Pelajaran Mengarang  

Pelajaran mengarang sudah dimulai.
Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.
Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara  dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.
***
    
Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.
Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.
***
Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”
Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
“Mama kerja apa, sih?”
Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”
Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00
     
Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.
***
Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Ia  juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur…
Palmerah, 30 November 1991
*) Dimuat di harian Kompas, 5 Januari 1992.  Terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993. 

Sebuah cerpen yang menggambarkan kondisi sebenarnya di dalam masyarakat Indonesia saat itu. Cerpen ini menarik untuk dibahas karena didalamnya terdapat banyak pelajaran yang dapat dijadikan sebagai motivasi ketika mengalami sebuah kebuntuan dalam hidup. Jika beberapa orang mampu merasakan keindahan keluarga yang utuh maka berbeda dengan tokoh utama dalam cerpen ini. Sandra hanya bisa meratapi nasib yang malang. Ia mungkin memiliki seorang Ibu namun tidak memiliki kejelesan sosok seorang Ayah. Hal ini membuat hidupnya tidak pernah memiliki momen-momen indah bersama keluarga tercinta secara lengkap. Yang ia tahu, hanya sebongkah cerita tentang kehidupan Ibunya sebagai wanita penghibur malam. Dunia malam membentuknya menjadi anak yang tak bisa menceritakan kebahagian yang ada dalam kehidupannya. Bahkan bisa dikatakan Ia tidak pernah merasakan kebahagiaan.

Cerpen ini mengingatkan kita semua untuk selalu bersyukur terlebih lagi ketika kita memiliki momen-momen yang indah bersama orang yang kita cintai dan kasihi. Sandra dalam cerpen ini menjadi tokoh yang sangat bimbang dengan apa yang ingin ia tulis dalam kertas tugasnya. Karena Sandra memang tidak memiliki cerita indah dengan keluarga dan Ibunya.  Bagi ibunya, Sandra adalah mutiara yang ia punya dalam hidupnya. Ibu Sandra tak memiliki pilihan lain bagaimana harus menghidupi kehidupannya dan kehidupan Sandra. Itu satu-satunya jalan baginya untuk memperoleh nafkah sebagai pertahanan hidup.

Sebagai seorang mahasiswa terkadang ada kalanya saya kurang menysukuri apa yang saya dapat saat ini. Sering saya hanya dapat mengeluh dengan beban berat yang saya miliki. Namun, dari sepenggal cerpen diatas saya tersadar bahwa hidup harus disyukuri. Apapun masalah yang datang, masalah yang akan mendewasakan kita. Seperti itulah tokoh Sandra diceritakan sebagai anak seorang pelacur, namun dia bisa bertahan dan berjuang. Pertahanan dan perjuangan itulah yang bisa membentuk karakter Sandra menjadi lebih dewasa daripada umurnya.

Ilmu Komunikasi A / 201610040311041

Minggu, 26 Februari 2017

#SayangUangnya

Generasi muda menjadi tolak ukur sebuah peradaban kehidupan manusia. Efek yang luar biasa di setiap detik kehidupan bisa dikatakan terjadi karena adanya generasi muda. Contohnya, kehidupan suka nonkrong menjadi suatu trend baru di kalangan muda. Dulu nongkrong menjadi hal yang biasa dilakukan tanpa ada paksaan atau keharusan karena tujuan dari nongkrong hanya sebatas bertemu dan mengobrol dengan teman. Namun, dengan berkembangnya teknologi hakikat dan tujuan dari nongkrong sudah berubah menjadi ajang pamer di sosmed. Mulai dari pamer tempat, harga makanan dan pamer gebetan. #Eehhh (bahkan gaul tidaknya seseorang dapat dilihat dari sosial media mereka).

Tak heran jika seiring berjalannya waktu banyak tempat-tempat nongkrong mulai bermunculan. Dari yang mengandalkan tempat yang kece dan photo-able sampai tempat yang simple but unique. Semua itu memiliki tujuan untuk menarik minat kaum muda agar singgah dan mampir ke tempat itu. Dan diharapkan mereka membagikan tempat yang mereka kunjungi dalam sosmed mereka. Sehingga mengundang teman atau followers mereka ke tempat tersebut.

Dengan adanya teknologi kedua belah pihak, baik produsen maupun konsumen merasakan feedback yang positif. Konsumen dengan mudahnya mendapatkan referensi tempat yang sedang viral dan direkomendasikan oleh banyak orang. Produsen pun dapat imbas yang positif karena hanya megandalkan makanan dan tempat aneh mereka bisa mempromosikan brand mereka melalui media sosial. Mengundang seorang atau beberapa influencer bisa menjadi cara cepat marketing produsen.

Terlepas dari itu semua, banyak pula imbas yang negatif. Salah satunya, hedonisme menjadi salah satu trend yang tak bisa ditinggalkan dari generasi muda. Generasi muda semakin ingin eksis dalam media sosial mereka. Membeli segelas es teh+lemon (lemon tea) yang bertarif mahal sudah menjadi suatu keharusan. Membeli barang branded pun sudah menjadi kebutuhan pokok yang utama. Sehingga tak heran jika saat ini ada beberapa pihak yang menggalakkan kehidupan hemat di kalangan anak muda. Contohnya, #SayangUangnya yang digalakkan oleh permata bank dan Hamish Daud dan Pevita Pearce sebagai brand ambassador. Gerakan ini bertujuan agar generasi muda mengubah gaya hidup yang konsumtif menjadi gaya hidup hemat tanpa menjadi pelit.

Gerakan ini menarik perhatian saya. Sebagai generasi muda, saya sering tak sadar menjadi orang yang konsumtif. Membeli barang yang sebenarnya tak terlalu dibutuhkan, membeli makanan dan minuman dengan harga langit karena menggunakan bahasa inggris dalam brand (bahasa inggris memahalkan makanan yang sebenarnya rasa dan makananya sama). Semua itu, tujuannya hanya memuaskan nafsu sementara. Ke depannya dengan adanya gerakan ini semakin berpikir berkali-kali untuk memiliki gaya hidup yang konsumtif. Karena sadar atau tidak sadar uang yang saya gunakan masih uang kiriman bukan uang gajian. Hehehe. Apakah kalian juga merasakan apa yang saya rasakan? Please share and comment in this section below

For more information #sayanguangnya (sayanguangnya.com)

Senin, 20 Februari 2017

Deskripsi Diri Sendiri

Hai, perkenalkan nama saya Moh Ajuk Alif Furqon. Biasa dipanggil Ajuk. Saya lahir dan dibesarkan di Gresik-Jawa Timur. Lahir pada 15 Juli 1997 dari pasangan Hadi Martoyo dan Endang Fatmawati. Saya memiliki golongan darah O sama seperti Ayah saya. Cita-cita masa kecil saya adalah Pilot, entah mengapa di mata saya Pilot itu keren. Mungkin karena mereka bisa keliling-keliling kota atau pun negara secara gratis bahkan dibayar. Seiring bertambahnya usia saya, cita-cita itu pun pudar dan mulai berganti dengan profesi lainnya. Karena saya sadar tinggi saya yang kuran dari persyaratan menjadi seorang Pilot. Ini foto saya:


Screenshot_1
Menunda untuk berkuliah selama setahun adalah keputusan yang saya ambil ketika lulus SMA. Tapi selama setahun itu saya tidak menjadi pengangguran yang tidak produktif. Saya memutuskan untuk mengambil kursus Bahasa Inggris di Basic English Course (BEC) Kampung Inggris-Pare, Kediri. Banyak hal yang saya dapatkan disana. Salah satunya adalah bagaimana menjadi seseorang yang memiliki kedisiplinan yang tinggi. Lantas mengapa ambil program Bahasa Inggris? Karena menurut Saya, Bahasa Inggris itu penting untuk masa depan. Setidaknya Bahasa adalah salah satu poin yang dapat membedakan kita dengan orang lain.


Screenshot_8
      Ini waktu di BEC

Saya itu orangnya kalau sudah mengantuk berat, susah untuk disuruh berpikir. Apalagi memikirkan suatu ide yang harus kreatif. Maka dari itu, kalau saya mengerjakan tugas saya harus memastikan kondisi saya itu fit dan prima.
Menjadi seorang anak tunggal itu ada enak dan tidaknya. Enaknya, saya bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orang tua. Tidaknya, mungkin saya tidak pernah meraskan bertengkar dengan saudara kandung sendiri seperti sepupu-sepupu saya.
Itu lah deskripsi saya tentang diri saya sendiri. Terima Kasih telah membaca dan semoga bermanfaat.

Ilmu Komunikasi A / 201610040311041
Have a nice day!

Rabu, 15 Februari 2017

Maukah Kau Menjadi Makmumku?

Kau yang ada disana
Aku ingin bertanya
Disana kau sedang apa?
Sibukkah kau untuk meminta kepada-Nya
Meminta jalan agar Tuhan mempertemukan kita
Tak cukup hanya aku yang berusaha
Ku harap kau juga melakukan hal yang sama
Sama-sama berusaha dan berdoa
Agar Tuhan memberi jawaban secepatnya

Jika kita sudah dipertemukan sama sang pencipta
Aku ingin kembali bertanya
Maukah kau menjadi makmumku selamanya?
Karena ku sudah tak sabar membangun sebuah keluarga
Keluarga sakinah mawaddah warahmah

Walau ku sadar
Aku harus banyak belajar
Menjadi imammu yang soleh dan pintar
Kau disana kuharap menanti dengan sabar
Menanti imammu yang cetar

Jumat, 20 Januari 2017

Benci Untuk Mencinta

Setelah lama tidak produktif di Blog ini. Saatnya kembali untuk menjadi produktif melalui tulisan-tulisan sederhana. Bertujuan untuk menorehkan gagasan, pemikiran dan cara pandang yang saya pahami. Dan kesepakatan saya bersama Fevie Mandariz untuk saling bertukar topik yang sudah kami berikan di bulan lalu. Jadi, saya mendapatkan topik yang saya berikan kepada fevi bulan lalu. Saya sekarang harus menulis tentang topik : CInta dan Benci.
Judul diatas merupakan salah satu judul lagu dari Naif dirilis pada tahun 2005 yang menginspirasi saya untuk menulis topik ini, kenapa saya memilih judul tersebut? Karena menggambarkan keadaan sebenarnya ðŸ™‚
Someone doesn’t have any reason to hate or love the other. Begitulah yang saya pahami untuk mendeskrisikan keduanya. Walaupun dua-duanya memang berbeda. Namun, keduanya sama-sama tidak memiliki alasan sebagai pondasi seseorang untuk memiliki rasa benci atau cinta kepada orang lain.
Dalam pengalaman saya, mencintai bukan berarti kita tidak harus membenci. Begitu pun sebaliknya. Kita boleh mencintai seseorang yang menurut kita itu orang yang sempurna. Bahkan kesalahannya pun kita anggap sebagai kelebihannya. Namun, disisi lain kita harus sadar dia yang begitu kita cintai juga manusia biasa yang tak luput dari salah. Masih tidak membencinya? Toh rasa benci yang kita timbulkan bisa jadi akan mengubahnya untuk menjadi lebih baik.
Sebaliknya, ketika kita membenci seseorang jangan lupa bahwa mereka juga tidak 100% salah dan selalu salah. Mereka juga masih memiliki hati dan otak yang membuat mereka untuk berbuat kebaikan. Masih membenci mereka? Cobalah berpikir sekali lagi untuk membencinya.
Lantas apakah kita harus membenci dan mencintai semua orang? Iya. Membenci hal-hal negatif dan mencintai hal-hal positif dari mereka. Itu sesutau yang sulit. Tapi jangan pernah bosan untuk selalu mencobanya.
Kita akan menyesal terlalu membenci atau terlalu mencintai seseorang ketika mereka pergi.Only know you love her when you let her go” (Let Her Go-Passenger 2012)

Senin, 02 Januari 2017

Bumerang Waktu

Waktu itu dibagi menjadi 3 kalo kita lihat di grammar (English). Past, Present and Future. Ketiganya saling berkaitan satu sama lain. Ketiganya juga sangat erat dengan kehidupan kita. But let me explain more specific about those.
  • Past (Masa lalu), mengajari kita tentang sejarah kehidupan kita. Apapun yang kita dapat dari masa lalu akan berdampak kepada siapa diri kita hari ini. We don’t need to forget what we did in the past. Yang perlu kita lakukan adalah, lupakan hal-hal yang menyakitkan (tapi jangan lupakan hikmahnya). Ingatlah hal-hal yang menyenangkan and let it be golden memories in our mind. Hal-hal yang menyenangkan akan membuat kita berpikir untuk berusaha mendapatkan hal-hal itu lagi dan lagi (penyemangat).
  • Present (Masa Sekarang), mengingatkan kita bahwa apa yang kita lakukan saat ini akan berdampak pada apa yang harus kita bayar dimasa depan. Ada karma yang harus kita terima. Dan masa depan kita itu terbentuk dari apa yang kita lakukan saat ini. Di sisi lain, masa sekarang adalah tempat yang pas untuk memperbaiki apa kesalahan kita di masa lalu. Sesalah apapun kita di masa lalu pasti masih bisa diperbaiki di saat ini. Saya pikir, yang bisa kita lakukan di masa sekarang, berusaha atau menyerah. Mengusahakan apapun keinginan kita atau membiarkan semua keinginan kita hanya menjadi sampah yang terbuang sia-sia. Itu semua pilihan, dan setiap pilihan membawa konsekuensinya masing-masing.
  • Future (Masa Depan), mengingatkan kita bahwa kehidupan itu memiliki sebuah harapan dan cita-cita. Semua itu sebagai motivasi kita untuk bangun setiap pagi, menjalani hari-hari kita, dan membuat kita bersemangat jika kita sedang di kondisi terpuruk.
Jika saya tarik kesimpulan, tiga hal diatas menjadi note penting di kehidupan saya. Saya sadar, apapun keinginan saya di masa lalu tidak akan berhasil di masa mendatang jika saya tidak melakukan hal terbaik di masa sekarang. Sebuah harapan dan cita-cita akan terjawab jika bumerang waktu siap menjawabnya.
Tak usah mempertanyakan kapan do’a dipanjatkan. Do’a itu hal yang paling penting, tidak bisa ditebak dan diduga. Oleh karena itu, panjatkan do’a disetiap waktu. Dan do’akan semua kejadian agar membawa keberkahan. Karena sebaik apapun kita mengatur waktu kita di dunia. Jika Tuhan siap memanggil maka kita harus siap menemui-Nya. Jika kehidupan kita penuh berkah, maka bersiaplah untuk menjadi penghuni surga. Aamiin
Seperti semua yang sudah terjadi di kehidupan saya. Dulu saya memiliki mimpi untuk menjadi A, B dan C. Seiringnya waktu beberapa menjadi sampah mimpi yang sia-sia dan lainnya ada yang sudah terwujud. Terwujud karena saya mengusahakannya ditambah iringan do’a dan lainnya menjadi sia-sia karena usaha yang kurang luar biasa ditambah kesalahan saya di masa lalu. Tapi kesalahan apapun yang pernah saya lakukan. Saya selalu mendoakannya agar menjadi keberkahan.
The topic (Bumerang Waktu) was given by Fevi Hayu Mandariz