Inter relasi:
A: Musik
B: Cinta
C: Sejarah
D: Ismail Marzuki
Pokok-pokok pikiran paragraf:
1. Perbedaan musik dan kata-kata.
2. Dampak musik terhadap masyarakat.
3. Cinta dan pertahanan.
4. Bentuk pengorbanan cinta.
5. Musik dan perlawanan.
6. Sejarah dan perjuangan.
7. Makna sejarah.
8. Menghargai musik di masa sekarang.
9. Menurunnya pemahaman sejarah.
10. Menghargai sejarah.
11. Mentalitas generasi muda yang menurun.
Mengekspresikan hati dan pikiran bisa disalurkan melalui musik. Bisa dikatakan bahwa musik adalah jembatan manusia untuk menyampaikan pesan dari seseorang kepada orang lain. Musik bisa menggambarkan kebahagiaan dan kesedihan secara nyata karena musik tak sama seperti kata-kata. Musik memiliki melodi yang indah sehingga dapat mempengaruhi emosional seseorang. (Ian Peddie, 2011)
Melalui musik, seorang Ismail Marzuki dapat mengecam keras bagaimana penjajahan di Indonesia tak seharusnya ada. Ini adalah gambaran emosi Ismail Marzuki kepada penjajah yang dapat berdampak kepada masyarakat Indonesia pada waktu itu. Sentilan emosi yang dihasilkan melalui musik karya Ismail Marzuki mampu menggerakkan hati masyarakat untuk melawan penjajahan di Indonesia. Karya-karya Ismail Marzuki menjadi saksi bahwa perjuangan tak harus bertarung dalam medan perang. Tetapi melalui karya berbentuk apapun bisa digunakan sebagai senjata. Contoh dari lagu yang tercipta adalah Rayuan Pulau Kelapa "Sebuah lagu dengan syair-syair yang penuh berisi cinta-kasih terhadap Tanah Air" (Esha, Alhaziri, Fauzi, Donald W, Sigarlaki, 2002)
Musik yang diciptakan oleh Ismail Marzuki adalah bentuk kecintaan seorang warga negara kepada tanah airnya. Cinta merupakan bentuk emosi dalam hati yang dapat ditandai dengan adanya pengorbanan demi kebahagiaan yang dicintai. Bentuk emosi yang disalurkan melalui musik tercatat dalam sejarah bagaimana musik ikut andil dalam menentukan kemerdekaan.
Cinta Ismail Marzuki tak hanya kepada negerinya yang sedang melawan penjajahan waktu itu. Namun juga cinta kepada Istrinya (Eulis) sebelum mereka menikah dapat digambarkan melalui lagu Panon Hideung (Mata Hitam). Cerita tentang cinta yang awalnya mendapat perlawanan oleh kedua belah pihak keluarga yang tak setuju. Namun, benteng cinta mereka dapat bertahan menghadapi perlawanan tersebut. (Esha, Alhaziri, Fauzi, Donald W, Sigarlaki, 2002)
Benteng yang sama dibangun oleh Ismail Marzuki saat itu kepada penjajah. Hal ini adalah bentuk pengorbanan yang nyata oleh Ismail Marzuki terhadap tanah air yang dicintainya. Memang, cinta itu buta dan tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Maka musik adalah jalan yang ditempuh Ismail Marzuki dalam melawan penjajahan. Ismail Marzuki hadir disaat Jepang tengah menggodok Indonesia sebagai tanah keduanya.
Sejarah merupakan kumpulan waktu yang tersusun rapi dengan momen-momen yang ada. Sejarah menjadi saksi bahwa sesuatu yang besar berawal dari hal-hal kecil yang diperjuangkan di masa lalu. Sejarah kemerdekaan Indonesia tak lepas dari campur tangan Jepang yang menghadiahi Indonesia kemerdekaan dari negara Belanda. Namun, hadiah itu juga menjadi bom atom bagi Indonesia karena Jepang memiliki maksud tersendiri untuk menghadiahi kemerdekaan itu kepada Indonesia. Alih-alih menganggap Indonesia adalah saudara muda di Asia Timur. Jepang malah menjadikan umpan kepada Belanda. Ketika Indonesia melawan keberadaan Jepang. Jepang siap mengembalikan Indonesia kepada Belanda. Namun, perjuangan tak henti-hentinya dilakukan pemuda-pemuda Indonesia. Termasuk lagu-lagu Ismail Marzuki saat itu yang sekarang bisa dikatakan menjadi sejarah perjuangan orang Indonesia. Contohnya, Sepasang Mata Bola yang menceritakan bahwa semua orang harus melihat pemuda pejuang yang kembali ke tanah juang. (Esha, Alhaziri, Fauzi, Donald W, Sigarlaki, 2002, p.53)
Kadang sejarah tak selamanya indah. Sejarah dapat menjadi hal yang menakutkan dan menyedihkan untuk dikenang. Itulah apa yang dimaksud dari sejarah. Sejarah tidak mengajari kita bagaimana cara memperbaiki masa lalu. Namun, sejarah mengajari kita bagaimana mempersiapkan masa depan dengan mempelajari kesalahan di masa lalu dan melakukan yang terbaik di masa sekarang.
Saat ini, jika ditelisik lebih mendalam Indonesia sedang bersiap untuk melakukan kesalahan di masa lalu. Pemuda-pemudi Indonesia saat ini tidak menghargai sejarah yang pernah ada. Pemuda-pemudi Indonesia lebih menghargai hasil karya negara lain dibanding negara sendiri. Musik-musik tradisional atau musik berdarah perjuangan lebih jarang didengar dibanding musik-musik yang lebih pop dan modern. Memang perubahan itu pasti ada, namun sejarah akan cinta seseorang kepada tanah air juga patut untuk dikenang dan dihargai. Lagu-lagu karya Ismail Marzuki seperti Indonesia Sang Pusaka telah tenggelam tergantikan oleh Shape Of You yang dinyanyikan Ed Sheeran. Musik-musik darah perjuangan seperti ciptaan Ismail Marzuki hanya terdengar ketika Agustus datang. Bulan dimana momentum untuk mengenang perjuangan dan bukti pengorbanan cinta para pejuang untuk Indonesia.
Hal ini tak terlepas dengan apa yang menjadi kegemaran generasi muda Indonesia. Saat ini mereka lebih mendalami cerita sinetron televisi dibanding dengan membaca dan memahami sejarah. Akibatnya, mereka lebih memahami konteks cinta dengan lawan jenis yang digambarkan secara visual di televisi dibanding konteks cinta lainnya. Padahal cinta itu luas, cinta kepada Indonesia juga salah satu bentuk yang harus dimiliki generasi muda saat ini.
Jika cinta kepada Indonesia tumbuh sejak anak-anak, maka generasi-generasi muda dapat lebih mengenal sosok Ismail Marzuki daripada Justin Bieber, Ariana Grande, atau artis Korea yang digilai saat ini. Dulu para pejuang berusaha keras untuk memerdekakan Indonesia. Tapi saat ini generasi mudanya seolah lupa untuk menghargai perjuangan mereka.
Tak heran jika mentalitas negeri ini menjadi turun dan perlu dipertanyakan. Hal itu sangat wajar karena dalam hal bermusik saja para pemudanya tidak mau mempelajari warisan budaya yang sudah ada. Terlena dengan adanya keberagaman budaya yang dengan mudah masuk ke Indonesia melalui teknologi. Lantas jika sudah begini, masih maukah generasi muda membunuh Indonesia secara perlahan melalui musik? Karena musik bukan hanya sekedar tentang cinta namun juga tentang bagaimana menghargai sejarah yang sudah ada.
Daftar Pustaka
1. Esha, dkk Teguh. 2002. Ismail Marzuki Musik, Tanah Air dan Cinta. Jakarta: Pustaka LP3ES.
2. Peddie, Ian. 2011. Popular Music and Human Rights volume II : World Music. Burlington: Ashtage Publishing Company.
Moh Ajuk Alif Furqon / Ilmu Komunikasi A / 201610040311041
Tidak ada komentar:
Posting Komentar