Kehidupan glamour dan hura-hura para selebriti selalu menjadi pemandangan yang biasa di pertelevisian Indonesia. Tas Hermes dan sepatu branded yang dikenakan Syahrini, Lamborghini yang dikendarai Raffi Ahmad bahkan kemewahan yang dipamerkan Roro Fitria menjadi bahan omongan yang mantap di keseharian masyarakat. Program infotainment seperti insert, silet dan kiss memberi kesempatan selebritis untuk pamer kehidupan. Selebritis yang sudah memiliki jutaan followers di sosial medianya itu tentu memperoleh cipratan keuntungan dari dunia televisi. Dengan mempersilahkan televisi mengumbar kehidupan pribadi mereka, namun menariknya tak hanya para selebriti yang memperoleh keuntungan dari umbar-umbar kehidupan pribadi tersebut. Bos-bos besar pemilik saham di televisi juga memperoleh keuntungan yang besar di perputaran bisnis dalam televisinya. Mempertajam kemungkinan yang akan terjadi di masyarakat menjadi tugas utama bos-bos pemilik modal. Bukan soal drama apa yang harus diciptakan tetapi drama seperti apa yang ditunggu masyarakat.
Pertelevisian Indonesia seolah membius masyarakat untuk terus memantau perkembangan apa saja yang ada di televisi. Memang betul, sebagai masyarakat modern kita dituntut untuk menjadi masyarakat cerdas dan up to date. Tapi, perlu ada pagar antara informasi yang mendidik dan informasi yang merugikan. Bahkan program televisi dipenuhi dengan drama dimana para selebriti menjadi pelakon utama disetiap ceritanya. Suatu kewajaran yang tak bisa dibedakan mana drama dan mana yang nyata. Contohnya, Sudah banyak kasus tentang perselingkuhan yang diumbar oleh selebriti melalui televisi. Entah itu memang nyata atau hanya settingan belaka. Hal semacam itu seharusnya tidak pantas menjadi santapan masyarakat sehari-hari. Terutama jika maksud dan tujuannya hanya mempertebal dompet bos-bos besar dibalik layar. Disayangkan saja jika drama dan kehidupan glamour para selebriti berimbas kepada generasi-generasi emas penerus bangsa. Korban memang belum merasakan efek dari kegiatan "mempertebal dompet bos" namun tak lama lagi efek itu akan bermunculan di layar kaca Indonesia.
Tak diragukan lagi, kehidupan glamour para selebriti yang ada di televisi menciptakan konsep baru di masyarakat tentang kebahagiaan. Kebahagiaan bukan lagi masalah bagaimana mensyukuri yang sudah ada tapi bagaimana memperoleh dan memiliki apa yang belum ada. Tontonan masyarakat tentang selebriti yang glamour dan dipenuhi barang branded menciptakan keinginan masyarakat untuk membeli apa yang selebriti miliki. Memiliki barang branded itupun tak cukup satu atau dua. Harus lebih dari yang biasa. Selain agar dapat berganti-ganti mode setiap harinya. Hal itu berguna juga agar mendapatkan pengakuan dari lingukungan sekitar. Konsep itulah yang akan menemani tumbuhnya generasi-generasi emas penerus bangsa. Generasi dimana sudah dari dini dipaksa untuk melihat rumput tetangga yang lebih hijau. Sehingga, tak bisa terelakkan lagi kegiatan yang konsumtif lebih tinggi dibanding kegiatan yang produktif. Di kemudian hari, jangan heran jika generasi emas sudah tak mengenal apa itu proses dan perjuangan. Mereka hanya akan mengenal hasil cepat dan instan.
Jadi, yang harus kita perjuangkan adalah hak-hak generasi emas untuk mengenal apa itu proses dan perjuangan. Bukan mengenal tentang apa itu hasil cepat dan instan. Memang hak setiap orang untuk mendapatkan yang mereka mau secara instan atau berproses. Tapi kita tidak boleh melupakan esensi dari sebuah kesuksesan, bahwa yang terpenting bukan hasil akhir namun proses yang dapat membawa perubahan. Apa yang kita harus lakukan saat ini adalah membiarkan generasi emas mengenal betapa indahnya perjuangan dengan cara tidak mencekoki program TV yang hanya mengumbar drama dan settingan belaka. Dengan begitu, diharapkan generasi akan tumbuh menjadi dewasa yang baik dan mengenal sebuah proses atau perjuangan.
Moh Ajuk Alif Furqon (201610040311041/ikom A)
Jadi, yang harus kita perjuangkan adalah hak-hak generasi emas untuk mengenal apa itu proses dan perjuangan. Bukan mengenal tentang apa itu hasil cepat dan instan. Memang hak setiap orang untuk mendapatkan yang mereka mau secara instan atau berproses. Tapi kita tidak boleh melupakan esensi dari sebuah kesuksesan, bahwa yang terpenting bukan hasil akhir namun proses yang dapat membawa perubahan. Apa yang kita harus lakukan saat ini adalah membiarkan generasi emas mengenal betapa indahnya perjuangan dengan cara tidak mencekoki program TV yang hanya mengumbar drama dan settingan belaka. Dengan begitu, diharapkan generasi akan tumbuh menjadi dewasa yang baik dan mengenal sebuah proses atau perjuangan.
Moh Ajuk Alif Furqon (201610040311041/ikom A)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar