Kamis, 25 Mei 2017

Berjuang di Rumput Tetangga yang Lebih Hijau - Moh Ajuk Alif Furqon

Kehidupan glamour dan hura-hura para selebriti selalu menjadi pemandangan yang biasa di pertelevisian Indonesia. Tas Hermes dan sepatu branded yang dikenakan Syahrini, Lamborghini yang dikendarai Raffi Ahmad bahkan kemewahan yang dipamerkan Roro Fitria menjadi bahan omongan yang mantap di keseharian masyarakat. Program infotainment seperti insert, silet dan kiss memberi kesempatan selebritis untuk pamer kehidupan. Selebritis yang sudah memiliki jutaan followers di sosial medianya itu tentu memperoleh cipratan keuntungan dari dunia televisi. Dengan mempersilahkan televisi mengumbar kehidupan pribadi mereka, namun menariknya tak hanya para selebriti yang memperoleh keuntungan dari umbar-umbar kehidupan pribadi tersebut. Bos-bos besar pemilik saham di televisi juga memperoleh keuntungan yang besar di perputaran bisnis dalam televisinya. Mempertajam kemungkinan yang akan terjadi di masyarakat menjadi tugas utama bos-bos pemilik modal. Bukan soal drama apa yang harus diciptakan tetapi drama seperti apa yang ditunggu masyarakat.

Pertelevisian Indonesia seolah membius masyarakat untuk terus memantau perkembangan apa saja yang ada di televisi. Memang betul, sebagai masyarakat modern kita dituntut untuk menjadi masyarakat cerdas dan up to date. Tapi, perlu ada pagar antara informasi yang mendidik dan informasi yang merugikan. Bahkan program televisi dipenuhi dengan drama dimana para selebriti menjadi pelakon utama disetiap ceritanya. Suatu kewajaran yang tak bisa dibedakan mana drama dan mana yang nyata. Contohnya, Sudah banyak kasus tentang perselingkuhan yang diumbar oleh selebriti melalui televisi. Entah itu memang nyata atau hanya settingan belaka. Hal semacam itu seharusnya tidak pantas menjadi santapan masyarakat sehari-hari. Terutama jika maksud dan tujuannya hanya mempertebal dompet bos-bos besar dibalik layar. Disayangkan saja jika drama dan kehidupan glamour para selebriti berimbas kepada generasi-generasi emas penerus bangsa. Korban memang belum merasakan efek dari kegiatan "mempertebal dompet bos" namun tak lama lagi efek itu akan bermunculan di layar kaca Indonesia.

Tak diragukan lagi, kehidupan glamour para selebriti yang ada di televisi menciptakan konsep baru di masyarakat tentang kebahagiaan. Kebahagiaan bukan lagi masalah bagaimana mensyukuri yang sudah ada tapi bagaimana memperoleh dan memiliki apa yang belum ada. Tontonan masyarakat tentang selebriti yang glamour dan dipenuhi barang branded menciptakan keinginan masyarakat untuk membeli apa yang selebriti miliki. Memiliki barang branded itupun tak cukup satu atau dua. Harus lebih dari yang biasa. Selain agar dapat berganti-ganti mode setiap harinya. Hal itu berguna juga agar mendapatkan pengakuan dari lingukungan sekitar. Konsep itulah yang akan menemani tumbuhnya generasi-generasi emas penerus bangsa. Generasi dimana sudah dari dini dipaksa untuk melihat rumput tetangga yang lebih hijau. Sehingga, tak bisa terelakkan lagi kegiatan yang konsumtif lebih tinggi dibanding kegiatan yang produktif. Di kemudian hari, jangan heran jika generasi emas sudah tak mengenal apa itu proses dan perjuangan. Mereka hanya akan mengenal hasil cepat dan instan.

Jadi, yang harus kita perjuangkan adalah hak-hak generasi emas untuk mengenal apa itu proses dan perjuangan. Bukan mengenal tentang apa itu hasil cepat dan instan. Memang hak setiap orang untuk mendapatkan yang mereka mau secara instan atau berproses. Tapi kita tidak boleh melupakan esensi dari sebuah kesuksesan, bahwa yang terpenting bukan hasil akhir namun proses yang dapat membawa perubahan. Apa yang kita harus lakukan saat ini adalah membiarkan generasi emas mengenal betapa indahnya perjuangan dengan cara tidak mencekoki program TV yang hanya mengumbar drama dan settingan belaka. Dengan begitu, diharapkan generasi akan tumbuh menjadi dewasa yang baik dan mengenal sebuah proses atau perjuangan.

Moh Ajuk Alif Furqon (201610040311041/ikom A)

Selasa, 02 Mei 2017

Kolaborasi Musik diantara Cinta dan Sejarah (Revisi)

Inter relasi:
A: Musik
B: Cinta
C: Sejarah
D: Ismail Marzuki

Pokok-pokok pikiran paragraf:
1. Perbedaan musik dan kata-kata.
2. Dampak musik terhadap masyarakat.
3. Cinta dan pertahanan.
4. Bentuk pengorbanan cinta.
5. Musik dan perlawanan.
6. Sejarah dan perjuangan. 
7. Makna sejarah.
8. Menghargai musik di masa sekarang.
9. Menurunnya pemahaman sejarah.
10. Menghargai sejarah.
11. Mentalitas generasi muda yang menurun.

Mengekspresikan hati dan pikiran bisa disalurkan melalui musik. Bisa dikatakan bahwa musik adalah jembatan manusia untuk menyampaikan pesan dari seseorang kepada orang lain. Musik bisa menggambarkan kebahagiaan dan kesedihan secara nyata karena musik tak sama seperti kata-kata. Musik memiliki melodi yang indah sehingga dapat mempengaruhi emosional seseorang. (Ian Peddie, 2011)

Melalui musik, seorang Ismail Marzuki dapat mengecam keras bagaimana penjajahan di Indonesia tak seharusnya ada. Ini adalah gambaran emosi Ismail Marzuki kepada penjajah yang dapat berdampak kepada masyarakat Indonesia pada waktu itu. Sentilan emosi yang dihasilkan melalui musik karya Ismail Marzuki mampu menggerakkan hati masyarakat untuk melawan penjajahan di Indonesia. Karya-karya Ismail Marzuki menjadi saksi bahwa perjuangan tak harus bertarung dalam medan perang. Tetapi melalui karya berbentuk apapun bisa digunakan sebagai senjata. Contoh dari lagu yang tercipta adalah Rayuan Pulau Kelapa "Sebuah lagu dengan syair-syair yang penuh berisi cinta-kasih terhadap Tanah Air" (Esha, Alhaziri, Fauzi, Donald W, Sigarlaki, 2002)

Musik yang diciptakan oleh Ismail Marzuki adalah bentuk kecintaan seorang warga negara kepada tanah airnya. Cinta merupakan bentuk emosi dalam hati yang dapat ditandai dengan adanya pengorbanan demi kebahagiaan yang dicintai. Bentuk emosi yang disalurkan melalui musik tercatat dalam sejarah bagaimana musik ikut andil dalam menentukan kemerdekaan.

Cinta Ismail Marzuki tak hanya kepada negerinya yang sedang melawan penjajahan waktu itu. Namun juga cinta kepada Istrinya (Eulis) sebelum mereka menikah dapat digambarkan melalui lagu Panon Hideung (Mata Hitam). Cerita tentang cinta yang awalnya mendapat perlawanan oleh kedua belah pihak keluarga yang tak setuju. Namun, benteng cinta mereka dapat bertahan menghadapi perlawanan tersebut. (Esha, Alhaziri, Fauzi, Donald W, Sigarlaki, 2002)

Benteng yang sama dibangun oleh Ismail Marzuki saat itu kepada penjajah. Hal ini adalah bentuk pengorbanan yang nyata oleh Ismail Marzuki terhadap tanah air yang dicintainya. Memang, cinta itu buta dan tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Maka musik adalah jalan yang ditempuh Ismail Marzuki dalam melawan penjajahan. Ismail Marzuki hadir disaat Jepang tengah menggodok Indonesia sebagai tanah keduanya.

Sejarah merupakan kumpulan waktu yang tersusun rapi dengan momen-momen yang ada. Sejarah menjadi saksi bahwa sesuatu yang besar berawal dari hal-hal kecil yang diperjuangkan di masa lalu. Sejarah kemerdekaan Indonesia tak lepas dari campur tangan Jepang yang menghadiahi Indonesia kemerdekaan dari negara Belanda. Namun, hadiah itu juga menjadi bom atom bagi Indonesia karena Jepang memiliki maksud tersendiri untuk menghadiahi kemerdekaan itu kepada Indonesia. Alih-alih menganggap Indonesia adalah saudara muda di Asia Timur. Jepang malah menjadikan umpan kepada Belanda. Ketika Indonesia melawan keberadaan Jepang. Jepang siap mengembalikan Indonesia kepada Belanda. Namun, perjuangan tak henti-hentinya dilakukan pemuda-pemuda Indonesia. Termasuk lagu-lagu Ismail Marzuki saat itu yang sekarang bisa dikatakan menjadi sejarah perjuangan orang Indonesia. Contohnya, Sepasang Mata Bola yang menceritakan bahwa semua orang harus melihat pemuda pejuang yang kembali ke tanah juang. (Esha, Alhaziri, Fauzi, Donald W, Sigarlaki, 2002, p.53)

Kadang sejarah tak selamanya indah. Sejarah dapat menjadi hal yang menakutkan dan menyedihkan untuk dikenang. Itulah apa yang dimaksud dari sejarah. Sejarah tidak mengajari kita bagaimana cara memperbaiki masa lalu. Namun, sejarah mengajari kita bagaimana mempersiapkan masa depan dengan mempelajari kesalahan di masa lalu dan melakukan yang terbaik di masa sekarang.

Saat ini, jika ditelisik lebih mendalam Indonesia sedang bersiap untuk melakukan kesalahan di masa lalu. Pemuda-pemudi Indonesia saat ini tidak menghargai sejarah yang pernah ada. Pemuda-pemudi Indonesia lebih menghargai hasil karya negara lain dibanding negara sendiri. Musik-musik tradisional atau musik berdarah perjuangan lebih jarang didengar dibanding musik-musik yang lebih pop dan modern. Memang perubahan itu pasti ada, namun sejarah akan cinta seseorang kepada tanah air juga patut untuk dikenang dan dihargai. Lagu-lagu karya Ismail Marzuki seperti Indonesia Sang Pusaka telah tenggelam tergantikan oleh Shape Of You yang dinyanyikan Ed Sheeran. Musik-musik darah perjuangan seperti ciptaan Ismail Marzuki hanya terdengar ketika Agustus datang. Bulan dimana momentum untuk mengenang perjuangan dan bukti pengorbanan cinta para pejuang untuk Indonesia.

Hal ini tak terlepas dengan apa yang menjadi kegemaran generasi muda Indonesia. Saat ini mereka lebih mendalami cerita sinetron televisi dibanding dengan membaca dan memahami sejarah. Akibatnya, mereka lebih memahami konteks cinta dengan lawan jenis yang digambarkan secara visual di televisi dibanding konteks cinta lainnya. Padahal cinta itu luas, cinta kepada Indonesia juga salah satu bentuk yang harus dimiliki generasi muda saat ini.

Jika cinta kepada Indonesia tumbuh sejak anak-anak, maka generasi-generasi muda dapat lebih mengenal sosok Ismail Marzuki daripada Justin Bieber, Ariana Grande, atau artis Korea yang digilai saat ini. Dulu para pejuang berusaha keras untuk memerdekakan Indonesia. Tapi saat ini generasi mudanya seolah lupa untuk menghargai perjuangan mereka.

Tak heran jika mentalitas negeri ini menjadi turun dan perlu dipertanyakan. Hal itu sangat wajar karena dalam hal bermusik saja para pemudanya tidak mau mempelajari warisan budaya yang sudah ada. Terlena dengan adanya keberagaman budaya yang dengan mudah masuk ke Indonesia melalui teknologi. Lantas jika sudah begini, masih maukah generasi muda membunuh Indonesia secara perlahan melalui musik? Karena musik bukan hanya sekedar tentang cinta namun juga tentang bagaimana menghargai sejarah yang sudah ada.

Daftar Pustaka

1. Esha, dkk Teguh. 2002. Ismail Marzuki Musik, Tanah Air dan Cinta. Jakarta: Pustaka LP3ES.
2. Peddie, Ian. 2011. Popular Music and Human Rights volume II : World Music. Burlington: Ashtage Publishing Company.

Moh Ajuk Alif Furqon / Ilmu Komunikasi A / 201610040311041