Selasa, 28 Februari 2017

Apa yang saya dapat dari Cerpen "Pelajaran Mengarang"

Pelajaran Mengarang  

Pelajaran mengarang sudah dimulai.
Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.
Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara  dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.
***
    
Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.
Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.
***
Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”
Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
“Mama kerja apa, sih?”
Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”
Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00
     
Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.
***
Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Ia  juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur…
Palmerah, 30 November 1991
*) Dimuat di harian Kompas, 5 Januari 1992.  Terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993. 

Sebuah cerpen yang menggambarkan kondisi sebenarnya di dalam masyarakat Indonesia saat itu. Cerpen ini menarik untuk dibahas karena didalamnya terdapat banyak pelajaran yang dapat dijadikan sebagai motivasi ketika mengalami sebuah kebuntuan dalam hidup. Jika beberapa orang mampu merasakan keindahan keluarga yang utuh maka berbeda dengan tokoh utama dalam cerpen ini. Sandra hanya bisa meratapi nasib yang malang. Ia mungkin memiliki seorang Ibu namun tidak memiliki kejelesan sosok seorang Ayah. Hal ini membuat hidupnya tidak pernah memiliki momen-momen indah bersama keluarga tercinta secara lengkap. Yang ia tahu, hanya sebongkah cerita tentang kehidupan Ibunya sebagai wanita penghibur malam. Dunia malam membentuknya menjadi anak yang tak bisa menceritakan kebahagian yang ada dalam kehidupannya. Bahkan bisa dikatakan Ia tidak pernah merasakan kebahagiaan.

Cerpen ini mengingatkan kita semua untuk selalu bersyukur terlebih lagi ketika kita memiliki momen-momen yang indah bersama orang yang kita cintai dan kasihi. Sandra dalam cerpen ini menjadi tokoh yang sangat bimbang dengan apa yang ingin ia tulis dalam kertas tugasnya. Karena Sandra memang tidak memiliki cerita indah dengan keluarga dan Ibunya.  Bagi ibunya, Sandra adalah mutiara yang ia punya dalam hidupnya. Ibu Sandra tak memiliki pilihan lain bagaimana harus menghidupi kehidupannya dan kehidupan Sandra. Itu satu-satunya jalan baginya untuk memperoleh nafkah sebagai pertahanan hidup.

Sebagai seorang mahasiswa terkadang ada kalanya saya kurang menysukuri apa yang saya dapat saat ini. Sering saya hanya dapat mengeluh dengan beban berat yang saya miliki. Namun, dari sepenggal cerpen diatas saya tersadar bahwa hidup harus disyukuri. Apapun masalah yang datang, masalah yang akan mendewasakan kita. Seperti itulah tokoh Sandra diceritakan sebagai anak seorang pelacur, namun dia bisa bertahan dan berjuang. Pertahanan dan perjuangan itulah yang bisa membentuk karakter Sandra menjadi lebih dewasa daripada umurnya.

Ilmu Komunikasi A / 201610040311041

Minggu, 26 Februari 2017

#SayangUangnya

Generasi muda menjadi tolak ukur sebuah peradaban kehidupan manusia. Efek yang luar biasa di setiap detik kehidupan bisa dikatakan terjadi karena adanya generasi muda. Contohnya, kehidupan suka nonkrong menjadi suatu trend baru di kalangan muda. Dulu nongkrong menjadi hal yang biasa dilakukan tanpa ada paksaan atau keharusan karena tujuan dari nongkrong hanya sebatas bertemu dan mengobrol dengan teman. Namun, dengan berkembangnya teknologi hakikat dan tujuan dari nongkrong sudah berubah menjadi ajang pamer di sosmed. Mulai dari pamer tempat, harga makanan dan pamer gebetan. #Eehhh (bahkan gaul tidaknya seseorang dapat dilihat dari sosial media mereka).

Tak heran jika seiring berjalannya waktu banyak tempat-tempat nongkrong mulai bermunculan. Dari yang mengandalkan tempat yang kece dan photo-able sampai tempat yang simple but unique. Semua itu memiliki tujuan untuk menarik minat kaum muda agar singgah dan mampir ke tempat itu. Dan diharapkan mereka membagikan tempat yang mereka kunjungi dalam sosmed mereka. Sehingga mengundang teman atau followers mereka ke tempat tersebut.

Dengan adanya teknologi kedua belah pihak, baik produsen maupun konsumen merasakan feedback yang positif. Konsumen dengan mudahnya mendapatkan referensi tempat yang sedang viral dan direkomendasikan oleh banyak orang. Produsen pun dapat imbas yang positif karena hanya megandalkan makanan dan tempat aneh mereka bisa mempromosikan brand mereka melalui media sosial. Mengundang seorang atau beberapa influencer bisa menjadi cara cepat marketing produsen.

Terlepas dari itu semua, banyak pula imbas yang negatif. Salah satunya, hedonisme menjadi salah satu trend yang tak bisa ditinggalkan dari generasi muda. Generasi muda semakin ingin eksis dalam media sosial mereka. Membeli segelas es teh+lemon (lemon tea) yang bertarif mahal sudah menjadi suatu keharusan. Membeli barang branded pun sudah menjadi kebutuhan pokok yang utama. Sehingga tak heran jika saat ini ada beberapa pihak yang menggalakkan kehidupan hemat di kalangan anak muda. Contohnya, #SayangUangnya yang digalakkan oleh permata bank dan Hamish Daud dan Pevita Pearce sebagai brand ambassador. Gerakan ini bertujuan agar generasi muda mengubah gaya hidup yang konsumtif menjadi gaya hidup hemat tanpa menjadi pelit.

Gerakan ini menarik perhatian saya. Sebagai generasi muda, saya sering tak sadar menjadi orang yang konsumtif. Membeli barang yang sebenarnya tak terlalu dibutuhkan, membeli makanan dan minuman dengan harga langit karena menggunakan bahasa inggris dalam brand (bahasa inggris memahalkan makanan yang sebenarnya rasa dan makananya sama). Semua itu, tujuannya hanya memuaskan nafsu sementara. Ke depannya dengan adanya gerakan ini semakin berpikir berkali-kali untuk memiliki gaya hidup yang konsumtif. Karena sadar atau tidak sadar uang yang saya gunakan masih uang kiriman bukan uang gajian. Hehehe. Apakah kalian juga merasakan apa yang saya rasakan? Please share and comment in this section below

For more information #sayanguangnya (sayanguangnya.com)

Senin, 20 Februari 2017

Deskripsi Diri Sendiri

Hai, perkenalkan nama saya Moh Ajuk Alif Furqon. Biasa dipanggil Ajuk. Saya lahir dan dibesarkan di Gresik-Jawa Timur. Lahir pada 15 Juli 1997 dari pasangan Hadi Martoyo dan Endang Fatmawati. Saya memiliki golongan darah O sama seperti Ayah saya. Cita-cita masa kecil saya adalah Pilot, entah mengapa di mata saya Pilot itu keren. Mungkin karena mereka bisa keliling-keliling kota atau pun negara secara gratis bahkan dibayar. Seiring bertambahnya usia saya, cita-cita itu pun pudar dan mulai berganti dengan profesi lainnya. Karena saya sadar tinggi saya yang kuran dari persyaratan menjadi seorang Pilot. Ini foto saya:


Screenshot_1
Menunda untuk berkuliah selama setahun adalah keputusan yang saya ambil ketika lulus SMA. Tapi selama setahun itu saya tidak menjadi pengangguran yang tidak produktif. Saya memutuskan untuk mengambil kursus Bahasa Inggris di Basic English Course (BEC) Kampung Inggris-Pare, Kediri. Banyak hal yang saya dapatkan disana. Salah satunya adalah bagaimana menjadi seseorang yang memiliki kedisiplinan yang tinggi. Lantas mengapa ambil program Bahasa Inggris? Karena menurut Saya, Bahasa Inggris itu penting untuk masa depan. Setidaknya Bahasa adalah salah satu poin yang dapat membedakan kita dengan orang lain.


Screenshot_8
      Ini waktu di BEC

Saya itu orangnya kalau sudah mengantuk berat, susah untuk disuruh berpikir. Apalagi memikirkan suatu ide yang harus kreatif. Maka dari itu, kalau saya mengerjakan tugas saya harus memastikan kondisi saya itu fit dan prima.
Menjadi seorang anak tunggal itu ada enak dan tidaknya. Enaknya, saya bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orang tua. Tidaknya, mungkin saya tidak pernah meraskan bertengkar dengan saudara kandung sendiri seperti sepupu-sepupu saya.
Itu lah deskripsi saya tentang diri saya sendiri. Terima Kasih telah membaca dan semoga bermanfaat.

Ilmu Komunikasi A / 201610040311041
Have a nice day!

Rabu, 15 Februari 2017

Maukah Kau Menjadi Makmumku?

Kau yang ada disana
Aku ingin bertanya
Disana kau sedang apa?
Sibukkah kau untuk meminta kepada-Nya
Meminta jalan agar Tuhan mempertemukan kita
Tak cukup hanya aku yang berusaha
Ku harap kau juga melakukan hal yang sama
Sama-sama berusaha dan berdoa
Agar Tuhan memberi jawaban secepatnya

Jika kita sudah dipertemukan sama sang pencipta
Aku ingin kembali bertanya
Maukah kau menjadi makmumku selamanya?
Karena ku sudah tak sabar membangun sebuah keluarga
Keluarga sakinah mawaddah warahmah

Walau ku sadar
Aku harus banyak belajar
Menjadi imammu yang soleh dan pintar
Kau disana kuharap menanti dengan sabar
Menanti imammu yang cetar

Jumat, 20 Januari 2017

Benci Untuk Mencinta

Setelah lama tidak produktif di Blog ini. Saatnya kembali untuk menjadi produktif melalui tulisan-tulisan sederhana. Bertujuan untuk menorehkan gagasan, pemikiran dan cara pandang yang saya pahami. Dan kesepakatan saya bersama Fevie Mandariz untuk saling bertukar topik yang sudah kami berikan di bulan lalu. Jadi, saya mendapatkan topik yang saya berikan kepada fevi bulan lalu. Saya sekarang harus menulis tentang topik : CInta dan Benci.
Judul diatas merupakan salah satu judul lagu dari Naif dirilis pada tahun 2005 yang menginspirasi saya untuk menulis topik ini, kenapa saya memilih judul tersebut? Karena menggambarkan keadaan sebenarnya ðŸ™‚
Someone doesn’t have any reason to hate or love the other. Begitulah yang saya pahami untuk mendeskrisikan keduanya. Walaupun dua-duanya memang berbeda. Namun, keduanya sama-sama tidak memiliki alasan sebagai pondasi seseorang untuk memiliki rasa benci atau cinta kepada orang lain.
Dalam pengalaman saya, mencintai bukan berarti kita tidak harus membenci. Begitu pun sebaliknya. Kita boleh mencintai seseorang yang menurut kita itu orang yang sempurna. Bahkan kesalahannya pun kita anggap sebagai kelebihannya. Namun, disisi lain kita harus sadar dia yang begitu kita cintai juga manusia biasa yang tak luput dari salah. Masih tidak membencinya? Toh rasa benci yang kita timbulkan bisa jadi akan mengubahnya untuk menjadi lebih baik.
Sebaliknya, ketika kita membenci seseorang jangan lupa bahwa mereka juga tidak 100% salah dan selalu salah. Mereka juga masih memiliki hati dan otak yang membuat mereka untuk berbuat kebaikan. Masih membenci mereka? Cobalah berpikir sekali lagi untuk membencinya.
Lantas apakah kita harus membenci dan mencintai semua orang? Iya. Membenci hal-hal negatif dan mencintai hal-hal positif dari mereka. Itu sesutau yang sulit. Tapi jangan pernah bosan untuk selalu mencobanya.
Kita akan menyesal terlalu membenci atau terlalu mencintai seseorang ketika mereka pergi.Only know you love her when you let her go” (Let Her Go-Passenger 2012)

Senin, 02 Januari 2017

Bumerang Waktu

Waktu itu dibagi menjadi 3 kalo kita lihat di grammar (English). Past, Present and Future. Ketiganya saling berkaitan satu sama lain. Ketiganya juga sangat erat dengan kehidupan kita. But let me explain more specific about those.
  • Past (Masa lalu), mengajari kita tentang sejarah kehidupan kita. Apapun yang kita dapat dari masa lalu akan berdampak kepada siapa diri kita hari ini. We don’t need to forget what we did in the past. Yang perlu kita lakukan adalah, lupakan hal-hal yang menyakitkan (tapi jangan lupakan hikmahnya). Ingatlah hal-hal yang menyenangkan and let it be golden memories in our mind. Hal-hal yang menyenangkan akan membuat kita berpikir untuk berusaha mendapatkan hal-hal itu lagi dan lagi (penyemangat).
  • Present (Masa Sekarang), mengingatkan kita bahwa apa yang kita lakukan saat ini akan berdampak pada apa yang harus kita bayar dimasa depan. Ada karma yang harus kita terima. Dan masa depan kita itu terbentuk dari apa yang kita lakukan saat ini. Di sisi lain, masa sekarang adalah tempat yang pas untuk memperbaiki apa kesalahan kita di masa lalu. Sesalah apapun kita di masa lalu pasti masih bisa diperbaiki di saat ini. Saya pikir, yang bisa kita lakukan di masa sekarang, berusaha atau menyerah. Mengusahakan apapun keinginan kita atau membiarkan semua keinginan kita hanya menjadi sampah yang terbuang sia-sia. Itu semua pilihan, dan setiap pilihan membawa konsekuensinya masing-masing.
  • Future (Masa Depan), mengingatkan kita bahwa kehidupan itu memiliki sebuah harapan dan cita-cita. Semua itu sebagai motivasi kita untuk bangun setiap pagi, menjalani hari-hari kita, dan membuat kita bersemangat jika kita sedang di kondisi terpuruk.
Jika saya tarik kesimpulan, tiga hal diatas menjadi note penting di kehidupan saya. Saya sadar, apapun keinginan saya di masa lalu tidak akan berhasil di masa mendatang jika saya tidak melakukan hal terbaik di masa sekarang. Sebuah harapan dan cita-cita akan terjawab jika bumerang waktu siap menjawabnya.
Tak usah mempertanyakan kapan do’a dipanjatkan. Do’a itu hal yang paling penting, tidak bisa ditebak dan diduga. Oleh karena itu, panjatkan do’a disetiap waktu. Dan do’akan semua kejadian agar membawa keberkahan. Karena sebaik apapun kita mengatur waktu kita di dunia. Jika Tuhan siap memanggil maka kita harus siap menemui-Nya. Jika kehidupan kita penuh berkah, maka bersiaplah untuk menjadi penghuni surga. Aamiin
Seperti semua yang sudah terjadi di kehidupan saya. Dulu saya memiliki mimpi untuk menjadi A, B dan C. Seiringnya waktu beberapa menjadi sampah mimpi yang sia-sia dan lainnya ada yang sudah terwujud. Terwujud karena saya mengusahakannya ditambah iringan do’a dan lainnya menjadi sia-sia karena usaha yang kurang luar biasa ditambah kesalahan saya di masa lalu. Tapi kesalahan apapun yang pernah saya lakukan. Saya selalu mendoakannya agar menjadi keberkahan.
The topic (Bumerang Waktu) was given by Fevi Hayu Mandariz

Sabtu, 31 Desember 2016

As simple as you think

Thanks for FHM (Fevie Hayu Mandariz).
“Sesulit inikah hidup gw?”
“Hidup nggak selalu tentang enaknya aja bro!”
“Enak banget loe cuman ngomong doang.”
Benar nggak sih, hidup itu mudah dan sebenarnya nggak perlu susah-susah untuk dipikirin?
But I don’t really think so. Hidup meemang nggak serumit rumus logaritma atau aljabar di matematika (Karena kehidupan nggak ada rumus pasti). Tapi, sebagai makhluk yang punya akal dan pikiran kita dituntut untuk menentukan ke arah mana kehidupan kita ini berlabuh.
Sesulit apapun kehidupan yang kita miliki. Ada banyak orang diluar sana yang memiliki kehidupan lebih sulit dari kita. Terus apa yang membuat mereka menikmati kehidupan mereka? Kesederhanaan.
Mereka memang tidak memiliki gadget super baru untuk membuat mereka tersenyum meilihat story following mereka setiap harinya. Mereka nggak seberuntung kita yang dapat mengakses internet setiap saat dan dimana pun kita berada. Tapi mereka bisa bahagia dengan cara mereka. Dengan prinsip yang mereka jalani. Dan yang pasti dengan cara mereka. Because not all happiness can be bought by moneySimple.
Jika memang hidup kita sulit. Jangan menyalahkan orang atau suatu hal lain. Karena itu disebabkan oleh pikiran kita sendiri, kita yang berpikir bahwa kehidupan ini terlalu rumit dan sulit. Start from now, I suggest you to think it simple.
Begitu pula jika kita membicarakan tentang cinta. Jangan menganggapnya secara rumit. make it simple. Jika memang dia baik untuk kita maka Allah akan memberi jalan untuk mendekatkan kita dengannya. Jika bukan, cari yang lain. Tak perlu mencari seseorang yang sempurna menurut kita. Toh manusia memang dilahirkan didunia ini tidak ada yang sempurna. Hanya Allah yang sempurna. Jika kalian kekeuh untuk mencarinya, silahkan. Tapi bersiaplah untuk kecewa.
Sebagai penutup, (karena ini tentang tahun baru 2017) saya hanya berpendapat bahwa memang sebaiknya setiap orang memiliki resolusi untuk menuju tahun yang baru. Kehidupan baru, cerita baru dan pasangan baru #eeehhh. Namun, bukan hal itu yang terpenting. Yang terpenting adalah dengan adanya  resolusi kita dapat semangat mencapai semua goal dan resolusi kita di tahun ini.  Dengan adanya resoulusi itu artinya ada  sesuatu yang harus dilakukan. Ada sesuatu yang harus dipertanggung jawabkan. Di pandangan saya, resolusi tidak perlu yang sulit dan ribet. Cukup dengan yang sederhana, tapi konsisten to do it. Pecuma dong kalo punya resolusi tapi masih tidak bisa konsisten.