Generasi muda menjadi tolak ukur sebuah peradaban kehidupan manusia. Efek yang luar biasa di setiap detik kehidupan bisa dikatakan terjadi karena adanya generasi muda. Contohnya, kehidupan suka nonkrong menjadi suatu trend baru di kalangan muda. Dulu nongkrong menjadi hal yang biasa dilakukan tanpa ada paksaan atau keharusan karena tujuan dari nongkrong hanya sebatas bertemu dan mengobrol dengan teman. Namun, dengan berkembangnya teknologi hakikat dan tujuan dari nongkrong sudah berubah menjadi ajang pamer di sosmed. Mulai dari pamer tempat, harga makanan dan pamer gebetan. #Eehhh (bahkan gaul tidaknya seseorang dapat dilihat dari sosial media mereka).
Tak heran jika seiring berjalannya waktu banyak tempat-tempat nongkrong mulai bermunculan. Dari yang mengandalkan tempat yang kece dan photo-able sampai tempat yang simple but unique. Semua itu memiliki tujuan untuk menarik minat kaum muda agar singgah dan mampir ke tempat itu. Dan diharapkan mereka membagikan tempat yang mereka kunjungi dalam sosmed mereka. Sehingga mengundang teman atau followers mereka ke tempat tersebut.
Dengan adanya teknologi kedua belah pihak, baik produsen maupun konsumen merasakan feedback yang positif. Konsumen dengan mudahnya mendapatkan referensi tempat yang sedang viral dan direkomendasikan oleh banyak orang. Produsen pun dapat imbas yang positif karena hanya megandalkan makanan dan tempat aneh mereka bisa mempromosikan brand mereka melalui media sosial. Mengundang seorang atau beberapa influencer bisa menjadi cara cepat marketing produsen.
Terlepas dari itu semua, banyak pula imbas yang negatif. Salah satunya, hedonisme menjadi salah satu trend yang tak bisa ditinggalkan dari generasi muda. Generasi muda semakin ingin eksis dalam media sosial mereka. Membeli segelas es teh+lemon (lemon tea) yang bertarif mahal sudah menjadi suatu keharusan. Membeli barang branded pun sudah menjadi kebutuhan pokok yang utama. Sehingga tak heran jika saat ini ada beberapa pihak yang menggalakkan kehidupan hemat di kalangan anak muda. Contohnya, #SayangUangnya yang digalakkan oleh permata bank dan Hamish Daud dan Pevita Pearce sebagai brand ambassador. Gerakan ini bertujuan agar generasi muda mengubah gaya hidup yang konsumtif menjadi gaya hidup hemat tanpa menjadi pelit.
Gerakan ini menarik perhatian saya. Sebagai generasi muda, saya sering tak sadar menjadi orang yang konsumtif. Membeli barang yang sebenarnya tak terlalu dibutuhkan, membeli makanan dan minuman dengan harga langit karena menggunakan bahasa inggris dalam brand (bahasa inggris memahalkan makanan yang sebenarnya rasa dan makananya sama). Semua itu, tujuannya hanya memuaskan nafsu sementara. Ke depannya dengan adanya gerakan ini semakin berpikir berkali-kali untuk memiliki gaya hidup yang konsumtif. Karena sadar atau tidak sadar uang yang saya gunakan masih uang kiriman bukan uang gajian. Hehehe. Apakah kalian juga merasakan apa yang saya rasakan? Please share and comment in this section below
For more information #sayanguangnya (sayanguangnya.com)
Being economical is the best choice
BalasHapus