Jumat, 17 Maret 2017

Terbang-terbang

Postingan kali ini merupakan request-an dari salah seorang FA wanna be, Ihsan Winalda Putra Rambe. As you know, we have the same dream, to be Flight Attendant. He asked me to write about FA. Ok, request accepted. hahaha

Pertama-tama mungkin flashback ke belakang ketika dulu masih kecil saya memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pilot. Pilot is the greatest dream that I had at that time. I was thinking that Pilot is one of the precious job. A Pilot can go travelling and visit all the great cities in the world. Tapi seiringnya waktu cita-cita itu berubah. Dapat saya katakan perubahan cita-cita tersebut karena fisik saya yang tidak mendukung ditambah beberapa pihak tidak merestui saya melanjutkan di pendidikan penerbang. Tapi itu bukan hal yang menjadi masalah bagi saya. Mungkin memang Tuhan sudah merencakan hal lain yang lebih indah di lembaran cerita kehidupan saya.

Tepatnya tahun 2013 ketika saya mencari cerita-cerita inspiratif seorang Pilot di google, Sistem pencarian menampilkan blog yang berisi tentang kehidupan pramugari yang dibungkus dengan cara yang unik dan lucu (You can visit radinnanandakita.blogspot.co.id). Kak Radinna adalah seorang blogger, waktu itu dia bekerja sebagai Cabin crew di Lion air. Isi dari blognya merupakan sekumpulan cerita kehidupannya sebagai seorang FA. blog tersebut yang membius saya untuk kepo tentang kehidupan yang dimiliki oleh FA lebih dalam. Hampir semua postingan sudah saya baca.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari proses kepoin kehidupan FA tersebut. Saya mulai mengetahui bahwa ada beberapa positive things, mulai dari bagaimana menjadi seorang penyelamat pertama. Walaupun keselamatan sebagai seorang FA sangat riskan dengan resiko tinggi. Namun, mereka harus memastikan kenyamanan dan keselamatan penumpang mereka selama penerbangan. Di sisi lain, mereka bisa menjadi pembelajar paling cepat disegala situasi. Baik situasi normal atau situasi buruk. Karena itu memang tugas mereka sebagai garda terdepan dari sebuah maskapai untuk memastikan segalanya berjalan dengan baik dalam cabin selama penerbangan.

Walaupun kehidupan sebagai FA kadang dianggap glamour dan suka hura-hura, namun itu bukan berarti semua seperti itu. Namun, memang kehidupan yang glamour sering banyak godaan dan rintangan. Bagi saya, profesi apapun ada rintangan untuk menjadi tidak baik. Tergantung orangnya, Begitu pula menjadi seorang mahasiswa. Godaan iman ada dimana-mana harus pintar mencari teman dan pasangan, Jika tidak, jadilah manusia tanpa arah dan tujuannya.

Itu yang bisa saya share kali ini semoga bermanfaat dan jangan lupa komen di kolom komentar:)

Kamis, 02 Maret 2017

Wanita Yang Patut Diperjuangkan

Selamat pagi, kesempatan kali ini saya ditantang oleh rekan menulis saya bang Susian Nurcahyana untuk menuangkan pikiran saya tentang "wanita yang patut diperjuangkan". FYI, I have written about woman on my wordpress (Perempuan). Jika bicara tentang wanita lebih jauh lagi pertama saya akan melihat dari seseorang yang telah berjasa dalam hidup saya, yaitu Mama saya sendiri. Sebagai seorang anak laki-laki tunggal tak menutup kemungkinan saya akan mencari sesosok wanita yang hampir mirip dengan mama saya. Tak hanya dari segi fisik, namun juga dari segi pemikiran dan sifat atau watak. Mungkin mama saya bukan seorang yang sempurna. Masih banyak kekurangan yang beliau miliki. Itu tugas saya untuk mencari yang lebih baik dari beliau. Saya pun percaya seorang Mama akan ikhlas jika anak tunggalnya berada di tangan wanita yang tepat,

Jika dikasih pilihan tentang wanita seperti apa yang patut untuk diperjuangkan, jawabannya adalah wanita yang mengajak saya menuju surga bersama. Saya berharap wanita yang saya perjuangkan tersebut juga mengharapkan hal yang sama. Menuju surga bersama-sama. Dia boleh cantik, pintar, sukses dan lain sebagainya. Namun yang pasti dia juga harus menjadi wanita yang mampu memberikan ketenangan bagi pasangannya. Ketenangan saya maksud seperti ketika saya gagal, down dan berada di posisi terpuruk. Dia akan membantu membangun semangat saya untuk berjuang kembali. Toh, wanita memang kodratnya adalah penyeimbang bagi seorang laki-laki.

Apakah sudah menemukan wanita yang patut diperjuangkan? 

Boleh jadi sudah, namun saya dengannya belum memiliki hubungan apa-apa. Hanya sebatas teman, dan tak lebih, Kami memang lebih nyaman seperti ini. Jika memang dia adalah jodoh saya, Tuhan pasti mempertemukan kami di hari yang dinanti-nanti. Sudahlah, saya sudah hampir berkepala dua. Bukan anak ingusan yang masih galau tentang kehidupan cintanya. Yang pasti tugas saya sekarang adalah memantaskan diri saya agar pantas juga untuk dia perjuangkan.

As a Man I know that in the future there will be a lot of choices, and I have to make sure that I choose the best of choices.

Personal Branding

Setiap manusia memiliki cara tersendiri dalam menjalani kehidupannya di dunia. satu dengan lainnya tak mungkin memiliki kehidupan yang sama. Mungkin ada beberapa hal yang memiliki kemiripan cerita dan alurnya, tapi dapat dipastikan ada hal lainnya yang membuat mereka berbeda. Manusia diciptakan Tuhan untuk menjalani kehidupan sesuai dengan cerita yang mereka inginkan. Bahkan seperti apakah mereka dikenal pun tak luput dari hak semua orang. Setiap orang memiliki hak untuk dikenal sebagai siapa, seperti apa dan bagaimana orang melihatnya. Jika saya boleh katakan personal branding merupakan cara untuk kita memperkenalkan seperti apa kita. Apa yang membuat kita berbeda dengan orang lain dan kehidupan kita yang mungkin bisa menjadi motivasi untuk orang lain.

Setiap orang membranding personalnya melalui cara mereka sendiri-sendiri. Bahkan kadang kita tak sadar apa yang kita lakukan setiap hari adalah cara branding kita kepada orang lain. Terlebih lagi ketika saat ini teknologi semakin maju dan berkembang pesat. Perkembangan itu membentuk kita menjadi selalu ingin menonjolkan siapa diri kita pada publik. Manusia dituntut untuk selalu eksis dan melaporkan seperti apa kehidupan mereka.

Dulu personal branding hanya bisa kita tujukan kepada orang-orang khusus (dunia kerja/karir). Namun saat ini, siapapun bisa membranding personalnya melalui media sosial mereka. Hal ini bisa berdampak positif jika kita melihat dari segi positif. Contohnya, kita tak perlu menjelaskan panjang lebar siapa diri kita pada banyak orang secara langsung, cukup suruh mereka melihat media-media sosial yang kita miliki. Walaupun tak semua media sosial pantas dijadikan sebagai patokan untuk mengetahui secara mendalam siapa orang-orang itu sebenarnya. Tapi paling tidak, beberapa hal sudah tergambar dari proses stalking tersebut.

Dari segi negatif, orang-orang yang berlomba untuk membranding di sosial media kadang lupa akan esensi dari sebuah personal branding, Mereka hanya menunjukkan siapa mereka melalui sosial media. Mereka lupa untuk membranding siapa mereka di dunia nyata. Bisa jadi mereka di dunia nyata bukanlah merekad di sosial media mereka.

This topic was given by Nur Hayati. Thx for Susian NurcahyanaFevie Hayu Mandariz and for all the people who helped me to write this topic.

Selasa, 28 Februari 2017

Apa yang saya dapat dari Cerpen "Pelajaran Mengarang"

Pelajaran Mengarang  

Pelajaran mengarang sudah dimulai.
Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.
Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara  dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.
***
    
Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.
Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.
***
Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”
Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
“Mama kerja apa, sih?”
Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”
Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00
     
Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.
***
Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Ia  juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur…
Palmerah, 30 November 1991
*) Dimuat di harian Kompas, 5 Januari 1992.  Terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993. 

Sebuah cerpen yang menggambarkan kondisi sebenarnya di dalam masyarakat Indonesia saat itu. Cerpen ini menarik untuk dibahas karena didalamnya terdapat banyak pelajaran yang dapat dijadikan sebagai motivasi ketika mengalami sebuah kebuntuan dalam hidup. Jika beberapa orang mampu merasakan keindahan keluarga yang utuh maka berbeda dengan tokoh utama dalam cerpen ini. Sandra hanya bisa meratapi nasib yang malang. Ia mungkin memiliki seorang Ibu namun tidak memiliki kejelesan sosok seorang Ayah. Hal ini membuat hidupnya tidak pernah memiliki momen-momen indah bersama keluarga tercinta secara lengkap. Yang ia tahu, hanya sebongkah cerita tentang kehidupan Ibunya sebagai wanita penghibur malam. Dunia malam membentuknya menjadi anak yang tak bisa menceritakan kebahagian yang ada dalam kehidupannya. Bahkan bisa dikatakan Ia tidak pernah merasakan kebahagiaan.

Cerpen ini mengingatkan kita semua untuk selalu bersyukur terlebih lagi ketika kita memiliki momen-momen yang indah bersama orang yang kita cintai dan kasihi. Sandra dalam cerpen ini menjadi tokoh yang sangat bimbang dengan apa yang ingin ia tulis dalam kertas tugasnya. Karena Sandra memang tidak memiliki cerita indah dengan keluarga dan Ibunya.  Bagi ibunya, Sandra adalah mutiara yang ia punya dalam hidupnya. Ibu Sandra tak memiliki pilihan lain bagaimana harus menghidupi kehidupannya dan kehidupan Sandra. Itu satu-satunya jalan baginya untuk memperoleh nafkah sebagai pertahanan hidup.

Sebagai seorang mahasiswa terkadang ada kalanya saya kurang menysukuri apa yang saya dapat saat ini. Sering saya hanya dapat mengeluh dengan beban berat yang saya miliki. Namun, dari sepenggal cerpen diatas saya tersadar bahwa hidup harus disyukuri. Apapun masalah yang datang, masalah yang akan mendewasakan kita. Seperti itulah tokoh Sandra diceritakan sebagai anak seorang pelacur, namun dia bisa bertahan dan berjuang. Pertahanan dan perjuangan itulah yang bisa membentuk karakter Sandra menjadi lebih dewasa daripada umurnya.

Ilmu Komunikasi A / 201610040311041

Minggu, 26 Februari 2017

#SayangUangnya

Generasi muda menjadi tolak ukur sebuah peradaban kehidupan manusia. Efek yang luar biasa di setiap detik kehidupan bisa dikatakan terjadi karena adanya generasi muda. Contohnya, kehidupan suka nonkrong menjadi suatu trend baru di kalangan muda. Dulu nongkrong menjadi hal yang biasa dilakukan tanpa ada paksaan atau keharusan karena tujuan dari nongkrong hanya sebatas bertemu dan mengobrol dengan teman. Namun, dengan berkembangnya teknologi hakikat dan tujuan dari nongkrong sudah berubah menjadi ajang pamer di sosmed. Mulai dari pamer tempat, harga makanan dan pamer gebetan. #Eehhh (bahkan gaul tidaknya seseorang dapat dilihat dari sosial media mereka).

Tak heran jika seiring berjalannya waktu banyak tempat-tempat nongkrong mulai bermunculan. Dari yang mengandalkan tempat yang kece dan photo-able sampai tempat yang simple but unique. Semua itu memiliki tujuan untuk menarik minat kaum muda agar singgah dan mampir ke tempat itu. Dan diharapkan mereka membagikan tempat yang mereka kunjungi dalam sosmed mereka. Sehingga mengundang teman atau followers mereka ke tempat tersebut.

Dengan adanya teknologi kedua belah pihak, baik produsen maupun konsumen merasakan feedback yang positif. Konsumen dengan mudahnya mendapatkan referensi tempat yang sedang viral dan direkomendasikan oleh banyak orang. Produsen pun dapat imbas yang positif karena hanya megandalkan makanan dan tempat aneh mereka bisa mempromosikan brand mereka melalui media sosial. Mengundang seorang atau beberapa influencer bisa menjadi cara cepat marketing produsen.

Terlepas dari itu semua, banyak pula imbas yang negatif. Salah satunya, hedonisme menjadi salah satu trend yang tak bisa ditinggalkan dari generasi muda. Generasi muda semakin ingin eksis dalam media sosial mereka. Membeli segelas es teh+lemon (lemon tea) yang bertarif mahal sudah menjadi suatu keharusan. Membeli barang branded pun sudah menjadi kebutuhan pokok yang utama. Sehingga tak heran jika saat ini ada beberapa pihak yang menggalakkan kehidupan hemat di kalangan anak muda. Contohnya, #SayangUangnya yang digalakkan oleh permata bank dan Hamish Daud dan Pevita Pearce sebagai brand ambassador. Gerakan ini bertujuan agar generasi muda mengubah gaya hidup yang konsumtif menjadi gaya hidup hemat tanpa menjadi pelit.

Gerakan ini menarik perhatian saya. Sebagai generasi muda, saya sering tak sadar menjadi orang yang konsumtif. Membeli barang yang sebenarnya tak terlalu dibutuhkan, membeli makanan dan minuman dengan harga langit karena menggunakan bahasa inggris dalam brand (bahasa inggris memahalkan makanan yang sebenarnya rasa dan makananya sama). Semua itu, tujuannya hanya memuaskan nafsu sementara. Ke depannya dengan adanya gerakan ini semakin berpikir berkali-kali untuk memiliki gaya hidup yang konsumtif. Karena sadar atau tidak sadar uang yang saya gunakan masih uang kiriman bukan uang gajian. Hehehe. Apakah kalian juga merasakan apa yang saya rasakan? Please share and comment in this section below

For more information #sayanguangnya (sayanguangnya.com)

Senin, 20 Februari 2017

Deskripsi Diri Sendiri

Hai, perkenalkan nama saya Moh Ajuk Alif Furqon. Biasa dipanggil Ajuk. Saya lahir dan dibesarkan di Gresik-Jawa Timur. Lahir pada 15 Juli 1997 dari pasangan Hadi Martoyo dan Endang Fatmawati. Saya memiliki golongan darah O sama seperti Ayah saya. Cita-cita masa kecil saya adalah Pilot, entah mengapa di mata saya Pilot itu keren. Mungkin karena mereka bisa keliling-keliling kota atau pun negara secara gratis bahkan dibayar. Seiring bertambahnya usia saya, cita-cita itu pun pudar dan mulai berganti dengan profesi lainnya. Karena saya sadar tinggi saya yang kuran dari persyaratan menjadi seorang Pilot. Ini foto saya:


Screenshot_1
Menunda untuk berkuliah selama setahun adalah keputusan yang saya ambil ketika lulus SMA. Tapi selama setahun itu saya tidak menjadi pengangguran yang tidak produktif. Saya memutuskan untuk mengambil kursus Bahasa Inggris di Basic English Course (BEC) Kampung Inggris-Pare, Kediri. Banyak hal yang saya dapatkan disana. Salah satunya adalah bagaimana menjadi seseorang yang memiliki kedisiplinan yang tinggi. Lantas mengapa ambil program Bahasa Inggris? Karena menurut Saya, Bahasa Inggris itu penting untuk masa depan. Setidaknya Bahasa adalah salah satu poin yang dapat membedakan kita dengan orang lain.


Screenshot_8
      Ini waktu di BEC

Saya itu orangnya kalau sudah mengantuk berat, susah untuk disuruh berpikir. Apalagi memikirkan suatu ide yang harus kreatif. Maka dari itu, kalau saya mengerjakan tugas saya harus memastikan kondisi saya itu fit dan prima.
Menjadi seorang anak tunggal itu ada enak dan tidaknya. Enaknya, saya bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orang tua. Tidaknya, mungkin saya tidak pernah meraskan bertengkar dengan saudara kandung sendiri seperti sepupu-sepupu saya.
Itu lah deskripsi saya tentang diri saya sendiri. Terima Kasih telah membaca dan semoga bermanfaat.

Ilmu Komunikasi A / 201610040311041
Have a nice day!

Rabu, 15 Februari 2017

Maukah Kau Menjadi Makmumku?

Kau yang ada disana
Aku ingin bertanya
Disana kau sedang apa?
Sibukkah kau untuk meminta kepada-Nya
Meminta jalan agar Tuhan mempertemukan kita
Tak cukup hanya aku yang berusaha
Ku harap kau juga melakukan hal yang sama
Sama-sama berusaha dan berdoa
Agar Tuhan memberi jawaban secepatnya

Jika kita sudah dipertemukan sama sang pencipta
Aku ingin kembali bertanya
Maukah kau menjadi makmumku selamanya?
Karena ku sudah tak sabar membangun sebuah keluarga
Keluarga sakinah mawaddah warahmah

Walau ku sadar
Aku harus banyak belajar
Menjadi imammu yang soleh dan pintar
Kau disana kuharap menanti dengan sabar
Menanti imammu yang cetar